Wali Kota Yogyakarta Dorong Bantuan Disabilitas Tak Boleh Cuma Kebutuhan Dasar

  • 27 Agt 2026 23:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas agar tidak hanya memperoleh pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memiliki kesempatan untuk produktif dan mandiri secara ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menghadiri kegiatan Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Terpadu di SLB Negeri Pembina Kota Yogyakarta, Kamis, 27 Agustus 2026. Menurutnya, sebagian peserta Jamkesus Terpadu masih berada dalam usia dan kondisi produktif, dari 78 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, ia memperkirakan sekitar 50 orang masih memiliki kemampuan untuk bekerja dan berkarya.

“Dari sebanyak 78, itu mungkin hampir separuh lebih masih produktif, mungkin sekitar 50-an masih produktif,” ujarnya.

Menurut Hasti, kondisi yang terjadi saat inimenunjukkan intervensi pemerintah terhadap penyandang disabilitas perlu diarahkan lebih luas. Pemerintah tidak cukup hanya memberikan dukungan berupa pembiayaan BPJS, obat-obatan, alat bantu, maupun bantuan sosial, tetapi juga perlu membuka ruang agar kemampuan penyandang disabilitas dapat berkembang.

“Pemerintah itu harus tidak hanya merawat kebutuhan vegetatif, dalam arti kebutuhan dia bisa melayani kehidupan sendiri, tetapi bagaimana membuat mereka produktif,” katanya.

Hasto menyebutkan, pelatihan menjadi salah satu bentuk dukungan yang penting. Sebab, keterbatasan fisik tidak selalu menghilangkan kemampuan seseorang untuk bekerja maupun menghasilkan karya.

Hasto juga melihat sejumlah peserta Jamkesus tetap menjalankan aktivitas ekonomi meski memiliki keterbatasan fisik, termasuk penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan pada kaki sejak kecil. Potensi tersebut, perlu didukung melalui akses pemasaran yang lebih luas, bahkan Pemerintah Kota Yogyakarta terbuka untuk membantu memasarkan produk karya penyandang disabilitas, termasuk memanfaatkannya untuk kebutuhan pemerintah daerah.

“Bapak, Ibu semuanya pasti bisa bekerja. Bahkan bisa jadi karyanya jauh lebih baik daripada orang yang sehat jari-jarinya normal,” ucapnya.

Selain aspek pemberdayaan, Hasto memastikan pelayanan Jamkesus Terpadu juga memiliki tindak lanjut. Peserta yang menjalani pemeriksaan dan asesmen akan mendapatkan alat bantu atau prostesa sesuai kebutuhan.

“Ini yang hari ini diperiksa itu ada follow up-nya. Ada yang dapat prostesanya, alat bantunya,” katanya, menjelaskan.

Hasto berharap, tindak lanjut tersebut dapat segera dilakukan agar alat bantu yang dibutuhkan peserta dapat segera digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Ia menegaskan, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan pelayanan pemerintah.

“Sedaya dipun gatosaken, boten wonten ingkang dipun rewa-aken. Kalau bahasa kerennya: no one left behind,” ucapnya, menegaskan.

Sementara itu, Kepala Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Sosial (Bapel Jamkesos) DIY, Sugiharto mengatakan, Jamkesus Terpadu merupakan hasil kolaborasi Bapel Jamkesos DIY dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta serta berbagai pihak pendukung lainnya.

“Ini adalah bukti bahwa pemerintah hadir melayani kepada semua warga yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kota Yogyakarta,” katanya, menjelaskan.

Menurut Sugiharto, pelayanan Jamkesus Terpadu tidak hanya dilaksanakan di Kota Yogyakarta, tetapi juga menjadi bagian dari pelayanan di lima kabupaten/kota di DIY. Pelaksanaan di Kota Yogyakarta sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan di daerah lainnya.

Semangat untuk tetap mandiri juga ditunjukkan Subakir, warga Kraton. Pria berusia 62 tahun tersebut memiliki keterbatasan pada kaki kiri sejak kecil, namun tetap aktif menjalankan usaha kelontong di rumah, berjualan burung, serta mengikuti berbagai kegiatan komunitas penyandang disabilitas.

Subakir menilai kegiatan Jamkesus Terpadu bukan hanya memberikan akses pelayanan, tetapi juga menjadi kesempatan bertemu dan berkomunikasi dengan sesama penyandang disabilitas.

“Walaupun kita difabel, kita enggak minder seperti orang-orang yang normal. Prinsipnya kita ikhlas dengan jualan apa dan membiayai anak,” ujarnya, mengatakan.

Subakir juga mengajak penyandang disabilitas lainnya untuk tidak menutup diri dan tetap berinteraksi dengan masyarakat.

“Pokoknya yang penting kita jangan minder. Haknya sama, yang orang normal sama yang ini tuh sama,” katanya, menambahkan.

Sementara itu, kebahagiaan terlihat dari Nathaniel Renato Allesando, siswa kelas V SLB Negeri 1 Yogyakarta. Ia mengaku senang setelah mendapatkan kesempatan memperoleh kursi roda baru yang diharapkan dapat mendukung aktivitasnya di sekolah maupun dalam keseharian.

“Seneng banget, buat jalan-jalan,” ujarnya, mengungkapkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....