Belajar Batik Selama 250 Jam, Pebatik Muda di Sleman Tampil di Jogja Fashion Week

  • 26 Agt 2026 23:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Sebanyak 9 anak muda yang tergabung dalam program Gen-Z Batik Preuner Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) besutan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sleman berhasil tampil pada ajang Jogja Fashion Week (JFW) pada 13-16 Agustus 2026.

Sebelumnya, peserta program ini menjalani 250 jam pelatihan. Terdiri dari 70 jam pelatihan teori dan 180 jam pelatihan praktik. Tak hanya materi membatik, tetapi juga mencakup karakter kewirausahaan, keterampilan teknis, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pemanfaatan marketplace. Peserta juga memperoleh dukungan alat dan bahan rintisan usaha, antara lain kompor batik, canting, gawangan, wajan, set alat ciprat, bak pewarna, timbangan digital, serta paket studio konten, dan live streaming.

Pada ajang JFW, para pebatik muda di bawah Dekranasda Sleman ini berhasil menjual dua lembar kain batik senilai Rp 550 ribu.

“Angka tersebut mungkin baru langkah kecil. Namun bagi seorang wirausaha muda, dua produk yang terjual adalah bukti penting bahwa karya yang dibuat dengan tangan sendiri telah menemukan pembelinya,” kata Ketua Dekranasda Sleman Parmila melalui keterangan tertulis, Senin, 24 Agustus 2026.

Usai menyelesaikan rangkaian pelatihan, 9 alumni Gen-Z Batik Preneur akan kembali membawa hasil karya batik untuk dipamerkan di Grha Dekranasda Sleman pada Rabu, 9 September 2026. Kegiatan pameran ini menjadi pertemuan antara produk batik dengan pasar. Parmilah menuturkan pengunjung dapat melihat produk, bertemu langsung dengan pembuatnya, mendengarkan cerita di balik karya, dan membeli produk batik.

Dia menambahkan, pameran dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dekranasda Sleman dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Ada pula dukungan mitra lintas sektor yang memperkuat ekosistem pembelajaran, kewirausahaan, perbankan, industri, dan pemasaran.

“Pelestarian batik tidak cukup hanya dengan menjaga warisan budaya. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mempelajari, mengembangkan, dan menjadikan batik sebagai bagian dari masa depan mereka,” ujar Parmilah.

Sementara, Ketua Harian Dekranasda Sleman Dwi Wulandari mengatakan melalui program Gen-Z Batik Preuner, anak muda diajak untuk menghasilkan produk sekaligus mengenalkan produk kepada pasar. Dia turut mengajak masyarakat untuk datang dan melihat produk batik yang dipamerkan.

“Peserta didorong agar tidak berhenti pada kemampuan membuat produk, tetapi mulai memahami konsumen, pasar, kemasan, promosi, dan hubungan dengan pelanggan,” kata Dwi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....