Pendidikan Khas keJogjaan Satukan Tiga Hal ini
- 23 Agt 2026 15:43 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Yogyakarta ikut berperan membentuk generasi intelektual dan para pemimpin bangsa dalam sejarah perjalanan terbentuknya Republik Indonesia. Sebab saat itu, banyak berdiri lembaga pendidikan seperti padepokan, pesantren, sekolah Muhammadiyah, hingga perguruan tinggi modern.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menyampaikan hal itu, saat meluncurkan pendidikan khas Kejogjaan dan workshop integrasi materi Kejogjaan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis, 20 Agustus 2026.
”Jogja telah lama menjadi ruang eksperimen tentang bagaimana seharusnya manusia dididik,” katanya. ”Para intelektual dan pemimpin bangsa, belajar di Yogyakarta bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi manusia yang berani menanggung akibat dari kepintarannya.”
Terkait penerapan pendidikan khas Kejogjaan ini, Sri Sultan menekankan beberapa hal penting. Antara lain tidak menekankan keseragaman bentuk karena setiap disiplin keilmuan punya cara tersendiri untuk membaca kearifan ini.
”Nilai keJogjaan dalam pendidikan perlu menjadi ruang pengabdian dan pendampingan yang sungguh-sungguh kepada masyarakat,” katanya.
Saat menyampaikan sambutan di acara yang sama, Rektor UNY Prof. Sumaryanto menyebut ada dua fakultas di kampusnya yang telah menerapkan pendidikan khas Kejogjaan. Yaitu Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Selain itu, pendidikan khas Kejogjaan ini mengenal tiga ruang yang harus terus dipertemukan. Yaitu kraton yang menghasilkan horison nilai, kampus yang menghadirkan daya kritis berbasis pengetahuan, dan kampung menghadirkan kenyataan hidup tempat nilai dan ilmu memperoleh sebuah pembuktian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....