Dampak Kemarau Aliran Air PDAM di Sejumlah Wilayah Gunungkidul Dijadwal

  • 23 Agt 2026 09:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul— Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani Kabupaten Gunungkidul memastikan pasokan air bersih selama musim kemarau tahun ini masih dalam kondisi normal. Namun, meningkatnya kebutuhan masyarakat membuat distribusi air di sejumlah wilayah, khususnya kawasan selatan, harus dilakukan secara bergilir.

Direktur PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Ariwibowo mengatakan, secara umum ketersediaan air masih mencukupi. Kendati demikian, pihaknya melakukan sejumlah upaya tambahan untuk menjaga kelancaran distribusi, terutama di wilayah yang mengalami peningkatan kebutuhan air.

“Untuk musim kemarau tahun ini pasokan air masih normal, tetapi kebutuhan air masyarakat meningkat. Untuk kawasan selatan kami melakukan usaha yang lebih, termasuk menjadwalkan aliran air,” kata Sulistyo, Jumat 21 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, PDAM Tirta Handayani memiliki beberapa sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Sumber tersebut meliputi air permukaan dari Sungai Oya, sumber air bawah tanah di Seropan, Bribin, dan Baron, serta sejumlah sumur dalam yang berada di Wonosari dan Paliyan.

Dari sejumlah sumber tersebut, penurunan debit terjadi pada sumber air permukaan Sungai Oya. Sementara itu, sumber air bawah tanah masih relatif normal. Adapun pada sumber dari sumur dalam, terdapat dua sumur yang saat ini mengalami penurunan debit.

“Untuk penurunan debit sumber sekitar 10 sampai 20 persen dari debit sumber,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat PDAM menerapkan sistem penggiliran aliran air di sejumlah wilayah selatan Gunungkidul. Wilayah yang terdampak antara lain Kapanewon Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Rongkop, dan Girisubo.

Menurut Sulistyo, durasi penggiliran distribusi air berbeda-beda, tergantung jarak wilayah pelanggan dengan sumber air. Di wilayah yang lokasinya relatif dekat dengan sumber, seperti sebagian wilayah Tepus, distribusi air dapat dilakukan setiap dua hari sekali.

Sementara itu, wilayah yang berada lebih jauh dari sumber air harus menunggu lebih lama. Bahkan, pada sejumlah lokasi, penggiliran distribusi air dapat dilakukan satu minggu sekali hingga dua minggu sekali.

Meski demikian, Sulistyo menyebut masyarakat di wilayah selatan relatif telah terbiasa menghadapi kondisi kekurangan air saat musim kemarau. Sebagian warga juga telah memiliki bak penampungan air hujan yang dimanfaatkan sebagai cadangan.

“Masyarakat meskipun ada giliran aliran mereka sudah terbiasa dengan situasi ini. Mereka punya penampungan air hujan. Ketika musim hujan, mereka bisa mengisi sekitar lima sampai enam meter kubik di bak penampungan,” ucapnya.

Ia berharap kondisi penggiliran distribusi air tidak berlangsung terlalu lama sehingga kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi selama musim kemarau.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....