Pakar UGM Dorong Panen Air Hujan Hadapi Kemarau Panjang
- 19 Agt 2026 04:38 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ancaman kekeringan dan keterbatasan air di sejumlah wilayah Indonesia perlu diantisipasi sejak musim hujan. Dampak El-Nino berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah, terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga berisiko mengganggu produksi pertanian, meningkatkan potensi kebakaran hutan, hingga memicu gangguan kesehatan masyarakat.
Pakar Hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., mengatakan perubahan iklim dan kenaikan temperatur membuat risiko banjir maupun kekeringan semakin meningkat. Karena itu, menurutnya, penanganan kekeringan harus dilakukan secara preventif sejak musim hujan.
Ia menilai kekeringan yang terjadi saat musim kemarau salah satunya merupakan akibat kurangnya upaya menyimpan air ketika musim hujan.
“Preventif pada saat musim hujan. Kekeringan itu adalah dampak daripada kelalaian kita melakukan sesuatu di musim hujan. Sehingga pada musim kering bingung,” ujarnya dalam workshop Sekolah Wartawan bertajuk “Metode dan Teknologi Mitigasi Kekeringan”, Jumat, 14 Agustus 2026, di Ruang Fortakgama, Gedung Pusat UGM.
Agus menjelaskan, fenomena El Nino sebenarnya terjadi secara berkala, sekitar lima tahun sekali. Namun, perubahan iklim membuat dampaknya kini semakin terasa. Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan tersebut dinilai masih perlu diperkuat.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memanen air hujan selama musim penghujan untuk digunakan ketika kemarau. Menurut Agus, air hujan memiliki kualitas yang baik dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air setelah melalui pengolahan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Semua orang Indonesia itu memahami tentang bagaimana manajemen hujan, bagaimana hujan kualitasnya sangat baik. Kualitasnya itu melebihi kualitas air sungai, melebihi kualitas air permukaan mana pun,” katanya.
Agus mengatakan pemanfaatan air hujan perlu dilakukan secara lebih luas, tidak hanya di tingkat rumah tangga, tetapi juga oleh sektor industri, perhotelan, perkantoran, hingga pertanian. Menurutnya, pemanenan air hujan dapat sekaligus membantu menjaga cadangan air tanah.
“Masyarakat perlu mulai memanfaatkan air hujan secara maksimal,” ujarnya.
Ia mencontohkan sumur-sumur perkotaan yang sudah tidak digunakan dapat dimanfaatkan sebagai tempat memasukkan air hujan yang telah melalui proses penyaringan. Cara tersebut dinilai dapat membantu mengisi kembali air tanah sekaligus mengurangi limpasan air yang berpotensi menyebabkan banjir.
“Kalau itu menjadi gerakan perkotaan untuk memanen air yang masuk ke sumur, itu sudah bisa menyelesaikan masalah penurunan muka air tanah. Di samping juga mengurangi banjirnya,” katanya.
Menurut Agus, pemanfaatan air hujan bukan sekadar praktik tradisional. Sejumlah negara, termasuk Australia, telah menerapkan sistem pemanenan air hujan di kawasan perkotaan maupun pedesaan. Di Indonesia, praktik serupa juga telah dilakukan di sejumlah daerah, termasuk wilayah yang memiliki karakteristik kering seperti Bojonegoro.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air hujan juga dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan. Agus mencontohkan masyarakat di Bantul yang memanfaatkan air hujan untuk memelihara ikan mujair dan lele.
Ia juga mendorong agar kolam tampung air hujan kembali dikembangkan di kawasan pertanian. Menurutnya, kebiasaan membuang air hujan secepat mungkin melalui sistem drainase perlu diubah menjadi upaya menyimpan air selama masih memungkinkan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperbanyak embung desa. Embung tidak harus berukuran besar, tetapi dapat berupa kolam-kolam kecil yang berfungsi menampung air hujan agar tidak langsung keluar dari wilayah desa.
“Program yang harus dilakukan adalah embung desa, mengupayakan supaya air hujan itu tidak keluar secepat-cepatnya. Kalau banjir memang harus keluar, tapi kalau tidak, harus mengisi desa ini. Nanti kekeringan tidak terjadi,” ujarnya.
Agus juga menyebut teknologi injeksi air hujan ke dalam tanah sebagai alternatif untuk mengisi kembali cadangan air tanah. Air dari talang dapat dialirkan melalui pipa atau lubang bor, setelah terlebih dahulu disaring. Sistem serupa dapat diterapkan dengan memanfaatkan sumur yang tersedia.
Pada tingkat rumah tangga, masyarakat juga dapat menyediakan bak penampung air hujan. Air yang tersimpan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, sedangkan kelebihannya dapat dikembalikan ke dalam tanah melalui sistem resapan atau injeksi.
Sementara saat musim kemarau tiba, masyarakat perlu aktif mengidentifikasi sumber-sumber air yang masih tersedia. Sumber tersebut antara lain aliran sungai, mata air, sungai bawah tanah, kawasan sekitar danau dan rawa, saluran irigasi, hingga sumur tua yang sudah tidak digunakan.
Agus menilai masyarakat dapat membuat sumuran di sekitar sungai untuk memperoleh air bawah permukaan. Mata air yang ditemukan juga perlu ditandai, dirawat, dan dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan.
Ia menegaskan, menghadapi kekeringan merupakan tanggung jawab bersama dan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga perlu mengambil langkah mandiri dengan memperbaiki sarana pemanenan air hujan, merawat sumur dan kolam, serta menjaga sumber-sumber air yang tersedia.
“Orang harus berpikir hujan sama kemarau itu jadi satu, kesatuan sistem. Kalau tidak ingin bermasalah pada musim kemarau, pada musim hujannya harus banyak menampung air,” kata Agus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....