Dinkes Sleman Kukuhkan KOPI TB, Wujudkan Zero Tuberkulosis pada 2030

  • 06 Agt 2026 23:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman turut mengukuhkan 18 anggota Koalisi Organisasi Profesi Indonesia (KOPI) Tuberkulosis (TB) dalam rangka menekan angka kasus TB di Sleman pada 2030. KOPI TB ini hadir dari kalangan pentahelix mulai dari pemerintah, mayarakat, hingga berbagai organisasi profesi.

Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama menjelaskan penuntasan kasus TB memerlukan peran dari berbagai pihak. Jika nantinya KOPI TB menemui terdapat kasus TB di tengah masyarakat, maka bisa ditindaklanjuti dengan diagnosa di fasilitas kesehatan.

“Kemudian Dinas Kesehatan akan melakukan kolaborasi pentahelix dengan teman-teman OPD, namanya SIKAT TB (Sleman Sigap Kendali dan Atasi Tuberkulosis),” kata Cahya saat ditemui pada pengukuhan KOPI TB di Hotel Ramada by Wyndham, Kamis, 6 Agustus 2026.

Cahya menambahkan, SIKAT TB salah satunya diwujudkan dengan menggandeng Dinas Sosial untuk memberikan jatah hidup dan makanan tambahan bagi penderita TB. Menurutnya, ini akan membantu penderita TB pekerja informal yang mengandalkan pendapatan harian sehingga tetap bisa beristirahat secara maksimal.

Di sisi lain, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman juga digandeng untuk mengubah rumah tidak layak huni menjadi layak huni. Cahya menuturkan, capaian upaya penemuan kasus TB di Sleman sudah mencapai di atas 100 persen. Di sisi lain, kasus TB juga sudah mampu ditangani kesembuhannya.

“Mudah-mudahan nanti setelah kasus TB ini bisa kita temukan, nanti bisa kita tapering off atau kita turunkan sehingga pada tahun 2030 nanti sudah terjadi eliminasi tuberkulosis di Sleman,” ujar Cahya.

Kadinkes Sleman menuturkan, penuntasan kasus TB menjadi isu strategis nasional. Sebab, ini merupakan penyakit menular dan akan menurunkan kualitas hidup penderitanya jika tidak ditangani dengan baik.

Selain itu, TB juga bisa memicu komplikasi pada seluruh organ tubuh sehingga bisa mengurangi produktivitas. Terlebih lagi jika penderita mengalami resistensi obat, disebut akan mengeluarkan biaya pengobatan yang lebih mahal. Ada pula risiko menularkan TB yang juga resisten obat. Meski demikian, Cahya menepis anggapan penyakit TB yang tidak bisa disembuhkan.
“Saat ini mangga betul-betul kita sudah tidak stigma lagi terhadap tuberkulosis karena tuberkulosis itu bisa diobati,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....