Dinkes Bantul Tekankan Pemantauan Berkelanjutan untuk Cegah Stunting Berulang
- 05 Agt 2026 18:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menegaskan bahwa upaya pengentasan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan. Penanganan tidak hanya sebatas sampai anak keluar dari kategori stunting, akan tetapi perlu dilakukan pemantauan dan intervensi agar hasilnya bisa dipertahankan.
Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widyantara mengungkapkan, berbagai upaya intervensi seperti pemberian makanan tambahan, susu, hingga perbaikan asupan gizi dapat membuat anak tumbuh dengan baik. Namun, kondisi tersebut belum menjamin anak terbebas dari risiko gangguan pertumbuhan.
“Anak yang sudah lulus dari stunting, berpotensi masuk kembali dalam kategori stunting pada penimbangan berikutnya,” ucapnya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Untuk itu, Agus menilai bahwa penanganan stunting tidak boleh berhenti setelah anak dinyatakan lulus dari stunting. Pemantauan rutin terhadap pertumbuhan dan status gizi harus terus dilakukan agar keberhasilan intervensi benar-benar bertahan.
“Jadi memang harus berkelanjutan dengan pemantauan dan intervensi sampai benar-benar lulus. Jadi bukan hanya lulus karena sudah tidak balita, tapi kondisinya sudah melebihi dari kriteria stunting,” ujarnya.
Agus menjelaskan, stunting merupakan permasalahan kompleks yang melibatkan berbagai faktor. Tidak hanya dari segi kondisi ekonomi, berbagai faktor lain seperti paparan asap rokok, pola pengasuhan, hingga kondisi kesehatan ibu hamil turut berkontribusi terhadap terjadinya stunting.
“Sebanyak 26,9 persen anak stunting di Bantul panjang lahirnya kurang dari 48 sentimeter. Jadi perkembangan pada masa kehamilan juga berpengaruh. Bisa jadi ibunya sakit, anemia, kekurangan energi kronis, ini bisa melahirkan anak dengan panjang lahir kurang dan akhirnya berujung pada stunting,” katanya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2KB) Bantul, Gunawan Budi Santoso menyatakan, pihaknya terus memperkuat edukasi dan pendampingan stunting dari hulu. Harapannya agar risiko stunting dapat dicegah sejak dini.
“Jadi cakupannya yakni kalangan ibu-ibu, calon pengantin, ibu hamil, serta keluarga yang mempunyai anak di bawah dua tahun (baduta) atau balita,” ucapnya.
Selain itu, upaya itu juga dibarengi dengan peningkatan pengetahuan masyarakat melalui Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Dengan demikian, masyarakat bisa lebih waspada dengan perkembangan anak-anak mereka.
“Jadi kawan-kawan PLKB ini terus mendampingi mereka agar semakin paham terkait pencegahan stunting. Kami berfokus pada upaya pencegahan, meningkatkan pengetahuan, serta meningkatkan akses mereka terhadap fasilitas kesehatan,” ucapnya menambahkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....