Lulusan PKBM di Gunungkidul Sukses Raup Puluhan Juta dari Budidaya Melon
- 31 Jul 2026 13:10 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Gunungkidul— Pendidikan kesetaraan tidak hanya membuka akses memperoleh ijazah, tetapi juga mampu melahirkan wirausaha baru. Hal itu terlihat dari keberhasilan Roni Irawan, warga Padukuhan Tangkil, Kalurahan Nitikan Timur, Kapanewon Semanu, yang sukses mengembangkan budidaya melon di lahan terbuka hingga menghasilkan keuntungan puluhan juta rupiah setiap musim panen.
Keberhasilan tersebut ditunjukkan dalam kegiatan panen melon yang digelar di PKBM Ngudi Kapinteran, Semanu, Kamis 30 Juli 2026. Roni merupakan lulusan Program Kejar Paket C tahun 2017 sekaligus salah satu peserta binaan program Gerakan Berani Sekolah Gunungkidul (Geni Seko Gunung)gen.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang menghadiri kegiatan tersebut menilai keberhasilan Roni menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan nonformal dapat menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan keterampilan.
Menurut Endah, konsep pendidikan perlu diintegrasikan dengan pemberdayaan ekonomi agar peserta didik memiliki bekal untuk mandiri setelah menyelesaikan pendidikan. Ia berharap keberhasilan yang diraih Roni dapat menjadi motivasi bagi masyarakat lainnya.
“Kalau pendidikan dibarengi keterampilan dan kemauan untuk berusaha, hasilnya bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Endah.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul saat ini mengalokasikan anggaran program Geni Seko Gunung yang menjangkau 376 peserta didik. Keberhasilan budidaya melon yang dilakukan Roni dinilai sebagai salah satu hasil konkret dari program tersebut.
Di lahan terbuka tanpa menggunakan greenhouse, Roni mampu membudidayakan sekitar 2.200 hingga 2.300 tanaman melon varietas Golden Kinanti. Selain itu, ia juga mulai mengembangkan varietas Pertiwi Madu yang dipasarkan dengan segmen berbeda.
Roni menceritakan, dirinya mulai menekuni budidaya melon setelah kembali ke kampung halaman ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu pekerjaan sebagai buruh bangunan berhenti, sehingga ia mencari alternatif mata pencaharian dengan memanfaatkan lahan pertanian.
Melalui pendampingan yang diberikan PKBM Ngudi Kapinteran, ia mempelajari teknik budidaya melon dan mulai menerapkannya secara mandiri bersama sang ayah, Ngatino. “Kami mengelola dua bidang lahan seluas sekitar 1.300 meter persegi dan 1.200 meter persegi. Dari hasil usaha ini, kami berhasil membeli lahan sendiri yang sebelumnya masih disewa,” kata dia.
Dalam satu siklus tanam sekitar 65 hari, jumlah tanaman yang dibudidayakan berkisar antara 1.700 hingga 3.000 pohon. Produksi panen mencapai 4 sampai 6 ton setiap musim dengan keuntungan bersih sekitar Rp35 juta hingga Rp40 juta.
Menurut Roni, hasil panennya telah memiliki pasar tetap. Sekitar 70 persen dipasarkan di wilayah Gunungkidul, sedangkan sisanya dikirim ke sejumlah daerah seperti Magelang, Klaten, Semarang, Purwodadi, serta sejumlah instansi dan pusat perbelanjaan.
Meski usaha budidaya melon berkembang, tantangan masih dihadapi petani, terutama terkait ketersediaan air. Roni mengungkapkan pasokan air dari sumur warga dengan kedalaman sekitar 25 meter belum mampu memenuhi kebutuhan irigasi lahan yang potensinya mencapai sekitar delapan hektare.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....