Budaya Nongkrong Tinggi, Kesehatan Mental Masyarakat Jogja Jadi Sorotan
- 30 Jul 2026 16:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta — Yogyakarta dikenal sebagai kota yang akrab dengan budaya berkumpul. Mulai dari angkringan, burjo, kedai kopi, hingga ruang-ruang komunitas, aktivitas nongkrong menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya kalangan anak muda. Namun, di balik budaya yang mempererat hubungan sosial tersebut, tersimpan tantangan lain yang mulai mendapat perhatian, yakni meningkatnya persoalan kesehatan mental dan tekanan ekonomi.
Pierre, Jurnalis dari Good News from Indonesia (GNFI) menyebutkan bahwa Yogyakarta tercatat sebagai provinsi dengan rasio gangguan mental tertinggi di Indonesia per Juni 2026. Data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memperkuat temuan itu, dengan mencatat 3.498 kasus gangguan mental sepanjang 2025, yang mayoritas dialami oleh pria usia produktif antara 15 hingga 59 tahun.
"Ini menarik untuk kita renungkan bersama bahwa gangguan mental di Yogyakarta cukup tinggi, sementara budaya nongkrongnya juga sangat besar," ujar Pierre.
Dari sisi ekonomi, Yogyakarta tercatat memiliki rasio sebesar 0,414 pada semester II 2025, menempatkannya di posisi tiga besar provinsi dengan ketimpangan ekonomi tertinggi secara nasional. UMR Yogyakarta yang relatif rendah dibandingkan kota-kota industri seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya dinilai tidak sebanding dengan biaya hidup dan budaya berkumpul yang membutuhkan pengeluaran rutin.
"Budaya berkumpul membutuhkan dana, terang-terangan saja. Bahkan sekadar ke angkringan atau burjo, kita tetap harus beli. Nah, itu harus dihadapkan dengan UMR Jogja yang dikenal cukup rendah," ujar Pierre. Kondisi ini menurutnya berpotensi memunculkan tekanan psikologis yang berujung pada persoalan kesehatan mental.
Merespons tantangan tersebut, GNFI hadir melalui komunitas Kawan GNFI sebagai ruang berkumpul yang inklusif dan terjangkau. Pierre menjelaskan, komunitas ini menggelar berbagai kegiatan gratis seperti walking tour, baca buku bersama, kunjungan pameran seni, hingga tour silaturahmi lintas rumah ibadah yang menyasar semangat toleransi dan kebersamaan.
Pierre juga menekankan bahwa cara terbaik mempertahankan budaya berkumpul di era digital adalah dengan memperbanyak kegiatan bermakna yang mengajak orang keluar dari rutinitasnya.
"Budaya berkumpul orang Yogyakarta membentuk semangat berserikat, menyampaikan pendapat, dan bersama-sama menentukan arah masa depan kita," ucap Pierre.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....