BMKG DIY Imbau Warga Tak Panik Hadapi El Nino Kuat 2026

  • 28 Jul 2026 10:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA – Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada 2026.

Dalam program Jagongan BMKG DIY yang tayang melalui kanal YouTube Stageofsleman pada Senin, 27 Juli 2026, Analis Iklim Stasiun Klimatologi Daerah Istimewa Yogyakarta Dr. Artistya Ardhitama menjelaskan bahwa El Nino bukanlah sebuah badai. Fenomena ini merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan awan hujan bergeser dari wilayah Indonesia. Akibatnya, curah hujan di Tanah Air berkurang dan musim kemarau menjadi lebih panjang.

"Jadi suhu massa udara kita tertarik ke Pasifik di bagian timur dan tengah mengakibatkan fenomena El Nino. Jadi fenomena El Nino yang kami jelaskan di sini bukan sebuah badai namun itu adalah sebuah fenomena yang lazim terjadi di beberapa tahun terakhir akibat dampak dari pemanasan global," katanya.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino pada 2026 menunjukkan tren yang semakin menguat. Anomali suhu permukaan laut yang terus meningkat menempatkan fenomena tersebut dalam kategori El Nino kuat.

"Awal bulan Juli ini sudah mencapai 1,8, artinya sudah masuk ke dalam kategori El Nino kuat," ujarnya.

Ia menambahkan, dampak utama El Nino adalah berkurangnya curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, serta mundurnya awal musim hujan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan La Nina yang justru meningkatkan intensitas hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

"El Nino membuat wilayah Indonesia sebagian besar mengalami kekeringan, sedangkan La Nina membuat sebagian besar wilayah Indonesia hujan yang berlebih," ucapnya.

BMKG menilai sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak. Mundurnya musim hujan diperkirakan menghambat masa tanam dan berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian. Selain itu, sektor perikanan dan ketersediaan air bersih juga perlu mendapat perhatian khusus.

"Kalau normalnya mereka tanam di bulan Oktober, musim hujannya datang sampai bulan Desember atau Januari. Otomatis tiga bulan itu juga sebuah kerugian bagi petani," katanya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak El Nino, BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air. Pembangunan embung, pemanenan air hujan, serta pengaturan distribusi air irigasi dinilai menjadi langkah krusial dalam menghadapi musim kemarau panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....