Implementasi Filosofi "Momong Anak" Jadi Benteng Tumbuh Kembang Anak di DIY
- 27 Jul 2026 22:32 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN), Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta menghadirkan siaran khusus program "KAWRUH" pada Jumat 24 Juli 2026. Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", siaran ini mengupas tuntas tantangan serta strategi pelindungan dan pemenuhan hak anak di DIY dari sudut pandang kebijakan daerah dan kearifan lokal.
Zuli Murpuji Astuti, SS, MSi Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY serta pemerhati seni dan budaya Yogyakarta, R Ng. Adhyas Woro.
Zuli Murpuji Astuti menjelaskan bagaimana pemerintah daerah menerjemahkan tema Hari Anak Nasional ke dalam program prioritas. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah penanganan isu kejahatan jalanan yang kerap melibatkan anak, baik sebagai pelaku maupun korban dan lainnya.
DP3AP2 DIY terus mengefektifkan program pencegahan berbasis penguatan kapasitas keluarga dan lingkungan sekolah. Selain itu, upaya mendorong seluruh kabupaten/kota di DIY menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) terus diakselerasi hingga ke tingkat kalurahan/kelurahan guna menyediakan ruang publik yang aman, ramah, dan inklusif bagi tumbuh kembang anak.
Tak hanya itu, pemetaan dan penanganan angka pernikahan anak juga menjadi perhatian serius terkait aspek pengendalian penduduk dan kualitas keluarga, demi menjamin masa depan generasi muda yang lebih matang secara fisik maupun psikologis.
Sementara itu dari perspektif kultural, R. Ngt. Adhyas Woro (Bunda Woro) menyoroti pentingnya merefleksikan kembali ajaran tradisi Jawa dalam pola pengasuhan masa kini. Menurutnya, ungkapan "Momong Anak" dan nilai "Luhur ing Budi" memiliki makna mendalam yang relevan untuk membentengi anak dari pengaruh negatif globalisasi.
"Kesenian dan tradisi lokal bukan sekadar pertunjukan, melainkan media efektif untuk menyalurkan energi positif anak-anak kita agar terhindar dari perilaku menyimpang. Komunitas seni dan pelaku budaya harus mampu menyediakan ruang aman (safe space) bagi anak untuk bertumbuh, berkarya, dan merasa dihargai," ujar Bunda Woro.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan kasih sayang yang adaptif sesuai zaman tanpa menghilangkan ketegangan edukatif dari orang tua.
Melalui momentum Hari Anak Nasional ini, siaran program KAWRUH Pro 4 RRI Yogyakarta menegaskan bahwa upaya menciptakan lingkungan yang menyayangi dan melindungi anak membutuhkan sinergi lintas sektor. Kesadaran kolektif dari keluarga, komunitas budaya, hingga kebijakan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam membangun masa depan anak-anak Indonesia yang aman, berkarakter, dan berdaya saing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....