DPRD Kulon Progo Desak Investasi Menyeluruh terkait dugaan Keracunan SMP 3 Wates
- 27 Jul 2026 08:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Kulon Progo — DPRD Kabupaten Kulon Progo mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini menyusul adanya dugaan kasus keracunan yang menimpa sejumlah siswa di SMPN 3 Sogan, Kemantren Wates.
Ketua DPRD Kulon Progo, Aris Syarifuddin, mengatakan, kejadian ini harus menjadi peringatan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan penyediaan program tersebut. Menurutnya, aspek keselamatan dan kesehatan para siswa adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
"Kejadian ini kembali terjadi dan harus menjadi alarm serius bagi kita semua. Keselamatan para siswa tidak boleh dikompromikan dalam kondisi apa pun," ujarnya.
Menanggapi insiden tersebut, DPRD Kulon Progo mendorong langkah konkret dan respons cepat dari instansi berwenang. Aris mendesak agar investigasi menyeluruh segera dilakukan untuk mengurai penyebab pasti terjadinya dugaan keracunan tersebut.
Selain pengusutan penyebab, DPRD Kulon Progo menekankan pentingnya audit dan evaluasi secara menyeluruh terhadap rantai pelaksanaan program MBG di wilayah Kulon Progo, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
"Kami mendesak investigasi menyeluruh terhadap penyebab kejadian, evaluasi total terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kulon Progo, serta memastikan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan secara ketat," ujarnya.
Aris juga mengingatkan bahwa penegakan aturan dan pengawasan harus berjalan tegas. Apabila dari hasil investigasi ditemukan unsur kelalaian dari pihak penyedia maupun pengelola, prosedur hukum dan sanksi tegas harus diberlakukan.
"Jika dalam pemeriksaan nantinya ditemukan adanya kelalaian, harus ada pihak yang bertanggung jawab secara hukum maupun administratif. Ini penting agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang," ucapnya.
Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni mendorong dinas terkait melakukan penanganan dan investigasi menyeluruh atas dugaan gangguan pencernaan yang dialami puluhan siswa SMP Negeri 3 Wates, Selasa, 21 Juli 2026. Pada hari tersebut, sejumlah siswa SMP Negeri 3 Wates mengeluhkan gejala mual dan diare.
Dugaan awal mengarah pada konsumsi menu Makan Bergizi Gratis atau MBG yang dibagikan pada Senin 20 Juli 2026. Berdasarkan data lapangan hingga Selasa pagi, tercatat 115 siswa mengeluhkan sakit perut dan diare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 siswa dirujuk ke Puskesmas Wates untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan. Kejadiaan di SMPN 3 Wates ini merupakan kejadian kedua, setelah sebelumnya pernah terjadi pada tahun lalu dengan penyedia berbeda.
Asisten Lapangan SPPG Karangwuni, Fajar Pramono, mengatakan, berdasarkan sejumlah temuan lapangan, dimana dari total 38 sekolah dan 6 posyandu yang menerima kiriman menu MBG pada hari Senin lalu, laporan gangguan pencernaan hanya ditemukan di SMPN 3 Wates. Di lokasi lain, menu tersebut dikonsumsi oleh siswa, guru, hingga relawan tanpa ada keluhan kesehatan, bahkan ada yang mengonsumsinya hingga sore dan malam hari.
Adanya kejanggalan tersebut memicu masukan, dari sejumlah orang tua siswa dan tenaga pendidik agar pemeriksaan tidak hanya berfokus pada menu MBG, tetapi juga mencakup sanitasi di lingkungan sekolah.
"Sekolah lain yang menerima menu sama ternyata aman. Kami ada aspirasi dari wali siswa dan guru agar investigasi juga dilakukan terhadap kebersihan lingkungan, termasuk area kantin. Letak kantin yang berdekatan dengan toilet sekolah perlu juga di evaluasi terkait kebersihan dan kelayakan sanitasi," ucapnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih mengatakan, sulit untuk menjadikan kantin SMPN 3 Wates sebagai salah satu penyebab keracunan. Hal ini karena keracunan makanan juga dialami oleh ibu hamil dan menyusui, meski korban terbanyak dari SMP Negeri 3 Wates.
Dari data Dinkes Kulon Progo, ada 105 korban keracunan makanan. Sebanyak 98 korban adalah pelajar, empat tenaga kependidikan (tendik), dua ibu menyusui, dan satu orang ibu hamil.
"Ibu hamil dan ibu menyusui kan tidak jajan di kantin sekolah. Sementara ini kantin tidak ikut diperiksa," katanya.
Susilaningsih mengatakan, bu hamil dan menyusui tersebut menerima jatah MBG melalui Posyandu terdekat. Mereka diketahui mengalami gejala nyeri perut bahkan muntah-muntah setelah mengonsumsi MBG.
Dugaan MBG sebagai penyebab keracunan, ujarnya, dikuatkan data kronologi yang diperoleh Dinkes Kulon Progo terkait proses memasak di SPPG Karangwuni. Memasak dimulai dini hari dan diawali dengan daging ayam sebanyak 249 kilogram (kg). Daging tersebur dimasak dalam 4 kloter, masing-masing selama 45 menit.
"Daging ayam beresiko terkontaminasi bakteri paling tinggi. Jeda waktu antara pembuatan, pendistribusian, hingga konsumsi juga berpengaruh," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....