Optimalisasi Biogas untuk Kebutuhan Rumah Tangga dan Industri Kecil

  • 24 Jul 2026 20:31 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pengembangan energi berbasis limbah organik menjadi perhatian dalam upaya menciptakan ketahanan energi ramah lingkungan, salah satunya adalah biogas. Biogas banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti gas LPG di berbagai daerah pedesaan dan perkebunan.

Guru Besar Laboratorium Kimia Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, UGM Yogyakarta Prof. Karna Wijaya dalam acara Mbangun Ndesa PRO 4 RRI Yogyakarta mengatakan bahwa biogas dihasilkan melalui proses fermentasi atau penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme secara anaerob /tanpa oksigen. Gas utama yang dihasilkan dari proses penguraian ini adalah gas metana , yang memiliki nilai kalor tinggi sehingga sangat efektif dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga maupun industri kecil.

Prof. Karna mengungkapkan bahwa keberhasilan dan efisiensi produksi biogas sangat ditentukan oleh ketepatan komposisi bahan baku, khususnya perbandingan rasio Karbon (C) dan Nitrogen (N).

Menurutnya masyarakat sering kali menghadapi kendala seperti instalasi biogas yang tidak kunjung menyalakan api atau volume gas yang dihasilkan sangat sedikit. Hal tersebut umumnya disebabkan oleh tindakan asal mencampur limbah tanpa memperhatikan kestabilan nutrisi bagi bakteri pengurai.

" Jika kandungan karbon terlalu tinggi, proses penguraian menjadi sangat lambat. Sebaliknya, jika nitrogen terlalu dominan, senyawa amonia yang terbentuk dapat meracuni dan mematikan bakteri pembentuk metana," ujar Prof. Karna.

Selain menghemat biaya , pemanfaatan instalasi biogas secara terpadu juga memberikan nilai tambah berupa pemanfaatan limbah sisa pengolahan . Ampas atau sisa olahan cair dan padat dari tabung dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik cair atau padat yang kaya nutrisi bagi tanaman.

"Proses ini menerapkan prinsip zero waste atau nir-limbah. Ampas sisa proses pengolahan biogas yang masih mengandung serat dapat diolah dan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik berkualitas tinggi bagi tanaman," ujar Prof. Karna.

Meski memiliki potensi ekonomi dan lingkungan yang besar, menurut prof karna penetrasi biogas di Daerah Istimewa Yogyakarta maupun wilayah perdesaan lainnya di Indonesia masih relatif lambat. Kendala utama sejauh ini bukan terletak pada kerumitan teknologi, melainkan pada aspek kultur atau kebiasaan masyarakat.

Kemudahan dan kepraktisan mendapatkan elpiji bersubsidi membuat masyarakat cenderung enggan mengelola limbah secara mandiri. Kesadaran untuk beralih ke energi alternatif biasanya baru muncul saat terjadi kelangkaan pasokan atau lonjakan harga bahan bakar fosil.

Mengakhiri pemaparan nya Prof. Karna berharap edukasi mengenai formulasi bahan baku biogas ini dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat, khususnya kawasan perdesaan dan sentra peternakan, guna mewujudkan kemandirian energi berbasis potensi lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....