Harta Haram Adalah Musibah

  • 24 Jul 2026 20:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Melihat kenyataan saat ini miris karena banyak orang yang dalam pandangan agama mengumpulkan harta haram. Seperti judi online, judi offline, suap, dan korupsi.

Ada juga masyarakat yang bekerja di tempat-tempat yang diharamkan yang bersinggungan dengan riba dan khamer. “Kalau dilihat keadaan sekarang ini, banyak orang nampaknya tidak peduli soal halal dan haramnya harta,” ucap Ustad Muhammad Bekti Hendrianto dari Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Bisnis Islam dalam Mutiara Pagi Kamis, 23 Juli 2026.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan : akan datang suatu zaman manusia tidak peduli dari mana dia ambil harta. Harta dari halal atau dari haram.

Ternyata sekarang sudah datang zaman itu. Tidak hanya orang besar saja, tetapi orang kecil pun juga melakukan hal yang sama.

Fenomena ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, orang yang benar-benar tidak memiliki konsep pertanggungjawaban harta di hadapan Allah. Mereka mencintai harta secara berlebihan dan tidak peduli jika nantinya akan dipertanggungjawabkan.

Kedua, orang yang memiliki konsep salah tentang halal haramnya harta. Mereka mengira persoalan harta haram bisa diselesaikan dengan amal saleh seperti bersedekah dan melakukan perbuatan baik.

Dalam surat Al Baqarah ayat 106 disebutkan perintah Allah untuk memakan hanya yang halal. Jika tidak melakukan itu berarti manusia telah mengikuti setan dan setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Rasulullah pernah memberikan gambaran, ada orang yang sebenarnya doanya dikabulkan jika menurut syarat-syarat umum. Dia merintih-rintih kepada Allah. Tetapi tidak dikabulkan karena ternyata makanan, minuman, dan pakaiannya haram. Kemudian Rasul juga mengatakan dalam sebuah hadist yang artinya setiap daging yang tumbuh dari harta haram maka neraka lebih pantas untuknya.

Harta haram adalah musibah. Musibah berarti sesuatu yang justru mencelakakan. “Dampak dari harta haram adalah ibadah dan doa kita menjadi tertolak, ketika di akhirat dimasukkan ke neraka, jika harta ini menghidupi keluarga maka dampaknya dirasakan seluruh keluarga,” ucap Ustad Bekti menutup tausiyahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....