Perluas Pasar Ekspor, Askindo Dorong Peningkatan Produksi Kakao dalam Negeri
- 23 Jul 2026 16:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Kesepakatan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) menjadi angin segar bagi kinerja ekspor Indonesia, termasuk komoditas kakao. Melalui perjanjian tersebut, produk kakao Indonesia berpeluang lebih kompetitif di pasar Uni Eropa seiring penurunan tarif ekspor secara bertahap hingga menjadi nol persen.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Jeffrey Haribowo menyebut selama ini produk kakao Indonesia belum mampu bersaing secara optimal di pasar Eropa karena adanya tarif masuk. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara produsen kakao lain yang telah lebih dahulu menikmati tarif nol persen melalui perjanjian dagang dengan Uni Eropa.
Dengan adanya IEU-CEPA, tarif ekspor produk kakao Indonesia akan diturunkan secara bertahap dalam kurun waktu lima tahun. Menurut Jeffrey, masa transisi ini dimanfaatkan untuk memperbaiki tata kelola industri kakao agar mampu memenuhi berbagai standar yang dipersyaratkan pasar Eropa.
"Jadi kami harus mengapresiasi upaya Indonesia karena itu akan membuka peluang pasar kakao Indonesia bisa masuk ke pasar Eropa dengan perlakuan yang sama dengan negara-negara yang lain," ujar Jeffrey saat ditemui pada gelaran The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026 di Hotel Tentrem Yogyakarta, Kamis, 23 Juli 2026.
Jeffrey menambahkan, pasar ekspor utama kakao Indonesia saat ini masih didominasi Amerika Serikat, Cina, dan India. Menurutnya, Ciina dan India menjadi tujuan utama karena kedekatan geografis yang membuat biaya logistik lebih efisien. Sementara itu, Amerika Serikat memiliki kebutuhan besar terhadap lemak kakao. Bahkan sekitar 70 persen kebutuhannya dipasok dari Indonesia.
Dia juga mengungkapkan tren ekspor kakao Indonesia terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, industri masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan pasokan bahan baku dari dalam negeri.
"Memang tantangan kita mengoptimalkan bahan baku domestik. Karena sampai saat ini secara statistik kita masih banyak impor untuk memenuhi produk yang diekspor kembali. Jadi, alangkah baiknya jika kita bisa kembali mengoptimalkan produk biji kakao dari dalam negeri. Selain tren ekspor meningkat, pendapatan petani dalam negeri juga bisa meningkat," katanya.
Jeffrey mengatakan produksi kakao nasional saat ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan. Berdasarkan data yang dimiliki Askindo, Indonesia masih mengimpor sekitar 200 ribu ton kakao setiap tahun, sementara produksi domestik juga berada di kisaran 200 ribu ton.
Meski demikian, dia melihat perkembangan yang positif dalam dua tahun terakhir. Produksi kakao nasional mulai meningkat sehingga kebutuhan impor secara perlahan dapat ditekan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....