Paku Alam X Berharap PGRI Terus Perkuat Peran bagi Kemajuan Pendidikan
- 23 Jul 2026 14:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, mengapresiasi capaian Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam mengawal pendanaan pendidikan nasional. Berbagai capaian tersebut diharapkan tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga ditingkatkan melalui penguatan peran organisasi dalam menghadirkan gagasan dan langkah nyata bagi kemajuan guru serta dunia pendidikan.
Harapan tersebut disampaikan Sri Paduka saat menerima kunjungan Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) di Gedhong Pareanom, Rabu, 22 Juli 2026. Kunjungan tersebut menjadi bentuk apresiasi PB PGRI kepada Pemerintah Daerah DIY atas komitmennya memenuhi alokasi anggaran pendidikan.
DIY dinilai telah melampaui ketentuan minimal alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Capaian tersebut sejalan dengan mandat yang diemban PGRI untuk mengawal pendanaan pendidikan di Indonesia sesuai penugasan UNESCO sejak 2024.
Dalam kesempatan itu, Sri Paduka menegaskan guru merupakan fondasi utama pendidikan setelah lingkungan keluarga. Karena itu, PGRI diharapkan tidak hanya memperjuangkan kesejahteraan anggotanya, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang lebih luas melalui kajian, gagasan, serta langkah konkret dalam mendukung peningkatan kompetensi guru menghadapi tantangan pendidikan di masa mendatang.
“Sehingga saya rasa penting bagi PGRI untuk tidak hanya berfokus pada kesejahteraan anggotanya saja, namun turut memberikan kemaslahatan bagi anggotanya. Perlu ada pemikiran berdasarkan kajian dan langkah-langkah konkret tentang bagaimana guru-guru dapat terus didukung dan dikembangkan untuk persiapan di masa depan,” kata Sri Paduka.
Ia juga mengapresiasi perhatian PGRI terhadap kondisi guru-guru muda, khususnya yang masih berstatus honorer maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Menurutnya, kelompok tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari beban kerja hingga aspek kesejahteraan sehingga memerlukan dukungan yang lebih besar.
“Kalau bisa saya menyampaikan, yang juga penting adalah bagaimana PGRI bisa menjadi jembatan. Kita harus menaruh perhatian terhadap guru-guru muda yang masih honorer dan paruh waktu. Karena pada akhirnya, mereka juga perlu diperhatikan,” ujar Sri Paduka.
Usai pertemuan, Sekretaris Jenderal PB PGRI, Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan pertemuan tersebut turut membahas sejumlah persoalan pendidikan yang dihadapi secara nasional maupun di DIY. Salah satu isu yang menjadi perhatian ialah kekurangan tenaga pendidik serta upaya PGRI memperjuangkan guru honorer agar dapat diangkat menjadi PPPK maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“Program kami di PB PGRI adalah satu juga guru itu bisa diangkat jadi PNS dan P3K. Sekarang ini kita sudah sampai pada angka lebih dari 744 ribu,” katanya.
Selain itu, PB PGRI juga tengah mendorong Gerakan 1 Juta Guru Mahir Coding dan AI sebagai upaya meningkatkan kemampuan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi. Program tersebut diharapkan membantu guru memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyusun materi pembelajaran maupun menyelesaikan pekerjaan administrasi secara lebih efektif dan efisien.
“PB PGRI dan PGRI Provinsi mengajak pada guru jangan anti AI, jangan anti teknologi. Kita yang penting memanfaatkan, karena kita sudah disediakan asisten dalam bentuk AI dan Coding yang kita bisa dapat dari mana saja,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum PB PGRI 2024–2029, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, menegaskan organisasi yang dipimpinnya tetap berkomitmen menjalankan tiga fokus utama, yakni meningkatkan kualitas dan kompetensi guru, memperjuangkan kesejahteraan anggota, serta memberikan perlindungan profesi bagi seluruh guru.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting agar guru dapat menjalankan tugas secara profesional dan memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.
Pertemuan dengan Pemerintah Daerah DIY merupakan bagian dari rangkaian komunikasi PB PGRI bersama kepala daerah di berbagai wilayah Indonesia untuk mendorong pengalokasian anggaran pendidikan yang mampu menghadirkan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh anak bangsa.
“Diharapkan semua anak itu memperoleh pelayanan pendidikan yang berkualitas. Itu dikaitkan dengan SDG nomor 4 yang kualitas pendidikan, bahwa “no one left behind”. tidak boleh ada satu pun anak yang ketinggalan untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua PGRI DIY, Dr. Didik Wardaya, menyampaikan kekurangan guru di DIY masih menjadi tantangan. Kondisi tersebut dipengaruhi adanya guru yang memasuki masa pensiun setiap tahun, sementara pemenuhan formasi belum sepenuhnya mengikuti kebutuhan riil di lapangan.
Dengan jumlah anggota PGRI DIY yang mencapai sekitar 24 ribu guru, Didik berharap kebutuhan tenaga pendidik di DIY dapat segera dipenuhi sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan optimal.
“Jadi setiap tahun bagaimana kemudian harapan kita bisa terpenuhi supaya proses belajar mengajar itu bisa tetap berjalan dengan baik,” katanya.
kungan, seperti polusi udara, pola makan yang kurang sehat, hingga stres.
“Banyak pasien autoimun berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk melalui internet. Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun,” ujarnya.
Nyoman menilai faktor psikologis menjadi salah satu pemicu yang paling dominan. Bahkan, tidak hanya pekerja, mahasiswa juga berisiko mengalami autoimun akibat tekanan akademik dan beban kehidupan.
“Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul,” ucapnya.
Ia membagi penyakit autoimun menjadi dua kelompok, yakni autoimun organ spesifik dan autoimun sistemik. Autoimun organ spesifik menyerang satu organ tertentu, seperti penyakit Hashimoto pada kelenjar tiroid atau diabetes melitus tipe 1 akibat gangguan pada pankreas.
Sementara itu, autoimun sistemik menyerang beberapa organ sekaligus. Salah satu yang paling banyak ditemukan adalah lupus yang dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga organ lainnya. Selain lupus, terdapat pula rheumatoid arthritis, scleroderma, dan berbagai penyakit rematik autoimun lainnya.
Menurut Nyoman, sekitar 80 persen penderita autoimun merupakan perempuan, sedangkan laki-laki sekitar 20 persen. Kasus ini juga lebih banyak ditemukan pada perempuan usia muda karena sistem kekebalan tubuh masih sangat aktif.
Ia mengingatkan terdapat tiga faktor utama yang perlu dihindari agar penyakit tidak mudah kambuh, yakni kelelahan, stres, dan paparan sinar matahari secara berlebihan.
“Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter," katanya.
Selain itu, ia mengimbau penderita membatasi aktivitas fisik yang berlebihan serta menggunakan pelindung ketika harus beraktivitas di bawah sinar matahari.
“Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stress, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan,” katanya.
Terkait pola makan, Nyoman menyebut hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan makanan tertentu menjadi penyebab utama autoimun. Karena itu, setiap pasien disarankan mengenali sendiri makanan yang berpotensi memicu kekambuhan.
“Karena itu saya selalu menyarankan pasien untuk mengenali tubuhnya sendiri. Dalam bahasa Jawa saya sering mengatakan, dititeni. Artinya, perhatikan dan catat makanan apa yang dikonsumsi, lalu amati apakah setelah itu gejalanya kambuh atau tidak,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan lain dalam penanganan autoimun adalah kepatuhan pasien menjalani terapi. Sebagian pasien menghentikan pengobatan ketika merasa sehat, sementara sebagian lainnya justru mengalami depresi setelah mengetahui diagnosis penyakit.
“Ada pasien yang merasa sudah sehat setelah minum obat, lalu menganggap penyakitnya sudah sembuh sehingga berhenti berobat. Sebaliknya, ada juga pasien yang justru mengalami depresi setelah mengetahui dirinya menderita autoimun dan merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Kedua kondisi tersebut sama-sama menjadi tantangan dalam penanganan pasien,” ucapnya.
Nyoman juga terus mengembangkan penelitian obat herbal sebagai alternatif terapi. Menurutnya, pendekatan ideal bukan hanya menekan sistem imun, tetapi mengembalikan fungsi sistem kekebalan tubuh agar mampu membedakan sel tubuh sendiri dengan benda asing.
“Menurut saya, pendekatan yang ideal bukan sekadar menekan sistem imun, melainkan mengembalikan sistem imun agar mampu mengenali mana yang merupakan bagian tubuh sendiri dan mana yang merupakan benda asing,” ucap dr. Nyoman.
Ia berharap penelitian tersebut dapat menghasilkan terapi dengan efek samping yang lebih minimal dibandingkan obat imunosupresan.
“Karena itulah saya tertarik mengembangkan penelitian mengenai obat herbal. Harapannya, di masa depan dapat ditemukan terapi yang mampu mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal, bukan hanya menekannya,” katanya.
Di akhir, Nyoman mengajak masyarakat menjaga kesehatan fisik maupun mental sebagai langkah pencegahan. Menurutnya, mengelola stres, menghindari kelelahan berlebihan, menerapkan pola hidup sehat, serta membatasi paparan sinar matahari menjadi upaya penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko genetik.
“Ketika seseorang terus-menerus menjalani sesuatu yang tidak disukai, energinya akan terkuras dua kali. Pertama, untuk melawan perasaan tidak nyaman terhadap pekerjaannya, dan kedua untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri,” ujarnya.
Sementara bagi masyarakat yang memiliki riwayat autoimun dalam keluarga, ia mengingatkan pentingnya mengurangi berbagai faktor pencetus.
“Prinsipnya tetap sama, yaitu menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, dan membatasi paparan sinar matahari yang berlebihan. Selain itu, tentu tetap menjalankan pola hidup sehat, seperti menghindari rokok, alkohol, dan menjaga lingkungan tetap bersih,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....