Alment Coffee Jadi Motor Pemberdayaan Ekonomi Warga Jagalan

  • 30 Jun 2026 15:27 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul – Dana Keistimewaan (Danais) yang disalurkan melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Karangkopek dimanfaatkan Kalurahan Jagalan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu wujudnya adalah pendirian Alment Coffee, sebuah kedai kopi yang tidak hanya menjadi ruang usaha, tetapi juga sarana pelatihan dan penciptaan lapangan kerja bagi warga setempat.

Kalurahan Jagalan merupakan satu dari lima kalurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menerima BKK Danais Karangkopek. Bantuan tersebut diberikan kepada kalurahan yang tidak memiliki tanah kas desa, pelungguh, maupun pengarem-arem, sehingga pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung pengembangan potensi ekonomi masyarakat.

Melalui program tersebut, Kalurahan Jagalan mendirikan Alment Coffee yang mulai beroperasi pada Oktober 2025 dengan memanfaatkan lantai dua kompleks Balai Kalurahan Jagalan. Kehadirannya dirancang sebagai ruang yang mampu mendorong transformasi ekonomi berbasis potensi lokal.

Lurah Jagalan, Kaharuddin Noor, mengatakan ide mendirikan kedai kopi muncul setelah adanya perubahan sistem pelungguh yang kini dialihkan menjadi program pemberdayaan masyarakat melalui Danais.

“Kami melihat peluang, karena kedai kopi tetap ramai meski berada di kampung. Apalagi lokasi Alment Coffee strategis di pinggir jalan (Jalan Mondorakan) dengan lahan parkir luas,” katanya beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, Alment Coffee diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung sehingga memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja lokal sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Jagalan.

Sementara itu, Carik Jagalan, Kurnia Nur Rochmah, menjelaskan seluruh pembangunan Alment Coffee dibiayai menggunakan Dana Keistimewaan. Dana tersebut sebelumnya merupakan kompensasi atas tidak adanya pelungguh yang tidak diperbolehkan digunakan sebagai honor maupun gaji aparatur.

“Yang dibolehkan adalah untuk memberdayakan masyarakat, sehingga didirikanlah Alment Coffee ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, ruang yang digunakan sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Kini, lokasi tersebut berkembang menjadi tempat berkumpul sekaligus ruang yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pengelola Alment Coffee, Ressa Rahalita Meitasari, menjelaskan kedai tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 15.00 hingga 23.00 WIB. Selain menawarkan beragam menu kopi khas seperti Eco of Sayangan, Eco of Bodon, Jagalan Bliss, dan Pandan Jawa, Alment Coffee juga menjadi tempat belajar bagi generasi muda.

Seluruh barista yang bekerja merupakan warga Jagalan yang telah mengikuti pelatihan dasar sebelum mulai bekerja. Peralatan operasional kedai, mulai dari mesin espresso hingga peralatan pendukung lainnya, juga berasal dari dukungan Dana Keistimewaan.

“Kami ingin anak-anak muda punya keterampilan dan pengalaman kerja di sini. Jadi, Alment Coffee bukan cuma soal kopi, tetapi juga pembelajaran dan pemberdayaan,” katanya.

Ressa menuturkan, pengelolaan usaha dilakukan melalui sistem bagi hasil antara manajemen dan Pemerintah Kalurahan Jagalan.

“Sesuai dengan perencanaan awal kami, dari laba bersih, 40 persen untuk Pemerintah Kalurahan Jagalan dan 60 persen masuk Alment Coffee. Itu sudah mencakup biaya operasional dan pengembangan usaha. Untuk teknis pelaksanaannya diuraikan di Peraturan Lurah Jagalan,” katanya.

Salah satu barista Alment Coffee, Muhammad Taufik Satria, mengaku kesempatan bekerja di kedai tersebut menjadi pengalaman berharga setelah mengikuti pelatihan barista yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul.

“Ikut pelatihan dari Disnakertrans Kab. Bantul itu membantu banget. Diajarin dari pengenalan roasting kopi, terus berbagai macam teknik manual brew dan lain-lain, juga pembuatan espresso atau latte, dan juga cara membuat latte art, cara menggambarnya. Terus selesai pelatihannya itu hari terakhir biasanya simulasi seperti sudah menjadi barista asli. Bagaimana melayani pelanggan dan kalau sudah mau close order komunikasi ke customer gimana. Pokoknya semua tentang coffee shop,” ujarnya.

Sebelum menjadi barista, Taufik bekerja sebagai juru las. Ketertarikannya terhadap dunia kopi mendorongnya mengikuti pelatihan hingga akhirnya bergabung di Alment Coffee.

“Sebelum ikut pelatihan barista, saya bekerja sebagai juru las. Setelah resign, saya jadi tertarik dengan dunia kopi. Saya sempat berpikir, kopi ini kok enak ya, bagaimana cara membuatnya, dan bagaimana bisa ada gambar-gambar di atas kopi itu. Dari rasa penasaran tersebut, saya kemudian mengikuti pelatihan barista dari Disnakertrans. Setelahnya saya mendengar ada lowongan pekerjaan di Kalurahan Jagalan yang akan membuka Alment Coffee. Kemudian saya mengajukan menjadi barista dan diterima,” ujarnya.

Menurut Taufik, Alment Coffee membuktikan bahwa Dana Keistimewaan dapat dimanfaatkan secara produktif untuk membuka peluang usaha sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung justru lebih ramai pada hari kerja dibandingkan akhir pekan dengan rata-rata sekitar 10 pengunjung setiap harinya.

“Kalau di sini, kopi susu itu pakai full robusta. Kalau yang buat espresso, latte, dan cappuccino itu pakai blend Arabica sama robusta. Harapan saya, semoga Alment Coffee ke depannya semakin ramai. Buat teman-teman yang masih sering menyepelekan pelatihan, baik itu barista lah, atau yang lainnya, lebih baik dicoba daripada menyesal kemudian,” katanya.

Kehadiran Alment Coffee menjadi contoh pemanfaatan Dana Keistimewaan yang tidak hanya menghadirkan ruang usaha baru, tetapi juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia, membuka lapangan kerja, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di tingkat kalurahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....