Berawal Lima Domba, Alumni UGM Sukses Bangun Bisnis Peternakan

  • 30 Jun 2026 15:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Berawal dari memelihara lima ekor domba saat masih duduk di bangku SMA, Mila, alumni Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2021, kini sukses mengembangkan usaha peternakan modern yang mampu menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah. Di usianya yang belum genap 28 tahun, ia bersama suaminya, Sahroni, mengelola Kerabat Ternak 1-3 yang telah dikenal di berbagai wilayah Jawa Timur.

Kesuksesan tersebut menjadi bukti bahwa sektor peternakan memiliki peluang besar bagi generasi muda, termasuk perempuan. Di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki, Mila justru mampu membangun usaha yang mencakup penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan.

Perjalanan Mila menuju kesuksesan tidak berlangsung instan. Saat memutuskan melanjutkan studi di Fakultas Peternakan UGM, pilihannya sempat dipertanyakan oleh keluarga. Namun, keraguan itu justru menjadi penyemangat baginya untuk membuktikan bahwa peternakan dapat menjadi profesi yang menjanjikan.

“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” ujar Mila Senin, 29 Juni 2026.

Minat Mila terhadap dunia peternakan telah tumbuh sejak remaja. Pada 2014, ketika masih duduk di kelas XI SMA, ia mulai memelihara lima ekor domba sebagai langkah awal merintis usaha. Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Peternakan UGM pada 2020, ia memutuskan menekuni bisnis peternakan secara penuh.

Menurut Mila, pengalaman selama kuliah menjadi bekal penting dalam menjalankan usahanya. Ia menilai pembelajaran di Fakultas Peternakan UGM tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan yang sangat relevan dengan kebutuhan dunia usaha.

“Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.

Selain belajar di ruang kuliah, Mila juga aktif menggali pengalaman langsung dari dosen, praktisi, dan peternak berpengalaman. Baginya, keberhasilan mengelola peternakan tidak cukup hanya berbekal teori.

“Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan,” katanya.

Dalam perjalanan membangun usaha, Mila juga pernah menghadapi berbagai tantangan, termasuk kerugian akibat kematian ternak. Namun, setiap kegagalan dijadikannya sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan manajemen kesehatan hewan dan kualitas pemeliharaan.

Kini, Kerabat Ternak 1-3 lebih mengutamakan peningkatan mutu dan genetika ternak dibanding sekadar menambah populasi. Strategi tersebut terbukti meningkatkan nilai jual kambing, dengan harga ternak unggulan mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor.

Selain memenuhi kebutuhan hewan kurban dan aqiqah, usaha yang dibangunnya juga memasarkan berbagai sarana produksi peternakan, seperti susu cempe, vitamin, dan perlengkapan peternakan ke sejumlah daerah di Jawa Timur.

Momentum Iduladha menjadi periode tersibuk bagi Kerabat Ternak. Dalam dua bulan menjelang musim kurban 2024, usaha tersebut mencatatkan omzet antara Rp500 juta hingga Rp700 juta. Sementara di luar musim kurban, bisnis aqiqah, pembibitan, penjualan susu, serta sarana produksi peternakan tetap memberikan perputaran usaha yang stabil setiap bulannya.

Tak hanya fokus mengembangkan bisnis, Mila juga aktif membagikan edukasi mengenai peternakan modern melalui media sosial sejak 2023. Melalui berbagai konten, ia mengajak masyarakat memahami pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dalam mengelola usaha peternakan.

Keberadaan Kerabat Ternak juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Selain mempekerjakan tenaga kerja lokal, Mila membina kelompok peternak agar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengembangkan usaha.

Salah satu anggota kelompok ternak binaan, Erma, mengaku merasakan manfaat dari pendampingan yang diberikan.

“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) dari SMK Negeri 4 Bojonegoro yang memperoleh banyak pengalaman selama belajar di Kerabat Ternak.

“Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.

Bagi Mila, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. Berawal dari lima ekor domba yang dipelihara saat remaja, kini ia tumbuh menjadi salah satu peternak muda inspiratif yang membuktikan bahwa peternakan modern dapat menjadi sektor yang menjanjikan, sekaligus menjadi ruang pemberdayaan bagi masyarakat dan generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....