UGM Ajak Guru dan Siswa SMA Belajar Kimia dari Bahan Alam Indonesia
- 29 Jun 2026 14:02 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Sebanyak 50 guru kimia dan 100 siswa SMA dari berbagai sekolah di Kediri mengikuti Workshop Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa SMA bertema “Bahan Alam Asli Indonesia: Manfaat dan Sumber Belajar Tanpa Batas” di SMA Negeri 1 Kediri, Jumat, 26 Juni 2026. Kegiatan yang digelar Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) ini bertujuan memperkuat kompetensi guru dan siswa dalam memanfaatkan kekayaan bahan alam Indonesia sebagai sumber pembelajaran kimia yang kontekstual, inovatif, dan berkelanjutan.
Mewakili Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr. Endang Astuti menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi bahan alam yang sangat melimpah dan dapat dijadikan media pembelajaran yang menarik sekaligus bernilai ilmiah. “Guru dan siswa perlu terus didorong untuk mengeksplorasi potensi tersebut melalui pendekatan ilmiah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut merupakan bentuk komitmen Departemen Kimia FMIPA UGM dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan sains di tingkat sekolah menengah sekaligus mengenalkan kehidupan perguruan tinggi kepada generasi muda. “Melalui pendekatan yang interaktif, inspiratif, dan aplikatif, peserta diajak untuk mengenal lebih dekat ilmu kimia, kehidupan kampus, serta peluang pengembangan karir di bidang sains dan teknologi,” katanya.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Laboratorium Kimia Organik Departemen Kimia FMIPA UGM, Dr. Deni Pranowo, mengatakan kegiatan tersebut juga dirancang untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap sains, khususnya kimia, serta memberikan gambaran mengenai kehidupan akademik di perguruan tinggi.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan motivasi siswa untuk terus belajar serta berani bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Melalui pengenalan sains yang menyenangkan dan inspiratif, kami ingin menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan salah satu kunci penting dalam membangun masa depan bangsa,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi dengan literasi sains yang kuat, semangat belajar sepanjang hayat, serta kesiapan menjadi ilmuwan, inovator, dan pemimpin masa depan yang berkontribusi bagi pembangunan Indonesia.
Workshop mendapat sambutan positif dari para peserta. Selain memperoleh informasi mengenai dunia perkuliahan dan peluang studi di FMIPA UGM, para siswa juga berkesempatan mengikuti berbagai eksperimen kimia secara langsung.
Salah seorang peserta dari SMA Negeri 1 Kediri, Julita Sulistya Eka, mengaku mendapat pengalaman baru setelah mengikuti sesi praktikum. “Acara ini sangat seru dan menyenangkan. Selama ini saya menganggap kimia sebagai mata pelajaran yang cukup sulit karena banyak teori yang harus dihafal. Namun setelah mengikuti sesi Fun Chemistry mendapat ilmu dari para profesor tentang penelitian kimia dan menjadi paham kimia itu tidak lepas dai ada di sekitar kita,” kata Julita.
Apresiasi serupa disampaikan Yemima Brenda Chrissia, siswa kelas XI SMA N 1 Pare. “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru tentang dunia kampus, khususnya di UGM. Semoga ilmu yang kami peroleh hari ini dapat menjadi bekal untuk meraih cita-cita,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Kediri, Arif Syah Putra, menilai sinergi antara sekolah dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masa depan.
Dalam workshop tersebut, para pakar dari Departemen Kimia FMIPA UGM membagikan materi mengenai pembelajaran Kimia Hijau di SMA, pengenalan berbagai jenis pewarna alami Indonesia beserta karakteristik dan pemanfaatannya, hingga praktik pemanfaatan bahan alam sebagai media pembelajaran.
Sesi Fun Chemistry menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati. Peserta mengikuti berbagai demonstrasi dan praktikum sederhana, seperti penggunaan zat warna alami sebagai indikator pH, demonstrasi perubahan warna dalam reaksi kimia, pembuatan lilin aromaterapi, hingga praktik meracik parfum.
Melalui pendekatan experiential learning, peserta diajak memahami bahwa kimia bukan hanya teori, melainkan ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan memiliki banyak manfaat praktis. Praktikum juga dirancang agar dapat diterapkan kembali di sekolah menggunakan peralatan sederhana dan bahan yang mudah diperoleh.
Sebagai penutup, peserta mengikuti Discussion and Sharing Session yang bertujuan membangun pola pikir positif, meningkatkan semangat belajar, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....