Pasokan Minyak Goreng Tersendat, Harga Merangkak Naik di Yogyakarta
- 09 Jun 2026 08:12 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Keterbatasan pasokan minyak goreng yang terjadi di Kota Yogyakarta, mengakibatkan harga salah satu kebutuhan pokok masyarakat tersebut mengalami kenaikan. Keterlambatan pengiriman menjadi kendala dalam memastikan ketersediaan minyak goreng di pasaran.
Salah satu pedagang pasar Beringharjo, Yani Handayani mengatakan, ketidaklancaran dalam memasok minyak goreng premium sudah terjadi sekitar satu bulan. Menurutnya, jangka waktu pemesanan dari pemasok ke pedagang membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Kalau biasanya lancarkan, hari ini order besok datang. Tapi ini nggak langsung datang, nunggu beberapa lama dulu," katanya, Senin, 8 Juni 2026.
| Baca juga: Daya Beli Petani DIY Turun |
Yani menjelaskan, keterlambatan pengiriman minyak goreng yang bisa mencapai seminggu ini pun mengakibatkan kebutuhan sejumlah pelanggan tidak bisa maksimal terpenuhi. Ia mencontohkan, untuk merek premium seperti Fortune dan Sania yang biasa ia jual kini kirimannya kerap tidak lengkap, atau kadang tidak siap.
Penerapan pembatasan pembelian minyak goreng pun dilakukan terutama untuk pembeli dengan skala yang agak banyak.
"Kalau rumah tangga enggak, karena cuma secukupnya. Kecuali kalau kayak hotel atau rumah makan itu," ucapnya.
Sulitnya minyak goreng jenis premium di pasaran ini diakui Yani, berdampak pada kenaikan harga. Dari minyak premium kemasan 2 liter di pasaran mencapai Rp45.000 dan 1 liter Rp23.000.
"Sepekan ini (kenaikannya)," katanya, menambahkan.
Hal yang cukup mengkhawatirkan terjadi pada ketersediaan MinyaKita. Komoditas yang menjadi tumpuan masyarakat menengah ke bawah justru dalam beberapa bulan mengalami kekosongan.
Pedagang di Pasar Beringharjo, Surati mengungkapkan, MinyaKita sudah mengalami kekosongan sejak dua bulan terakhir. Menurutnya, sempat ada wacana 20 karton MinyaKita yang akan didistribusikan, tetapi tidak kunjung terjadi.
"Terakhir itu dua bulan, setelah itu tidak diteri (dikirimi) lagi. Terakhir itu 25 karton, kalau saya habisnya cepat, jualannya khusus minyak, ora kroso," katanya, mengungkapkan.
Selain MinyaKita, lanjut Surati, sejumlah brand terkenal seperti Bimoli juga mengalami kekosongan. Sedangkan untuk merk Sanco yang dulu sempat kosong saat ini sudah tersedia.
Surati menyebutkan, kenaikan harga minyak goreng berbanding terbalik terjadi untuk komoditas minyak goreng curah. Menurutnya, pasokan relatif aman dan harganya cenderung lebih stabil.
"Minyak goreng curah 19.000, itu turun terus kok. Raketang (walaupun hanya) seribu-dua ribu setiap jerigen, tapi turun," ujarnya, menambahkan.
Meski banyak pilihan, tetapi Surati mengakui, komoditas minyak goreng yang paling banyak dicari masyarakat masih tetap MinyaKita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....