Kain Tenun Lurik Kurnia, Warisan Tradisi yang Terus Lestari

  • 06 Jun 2026 16:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kain Tenun Lurik Kurnia menjadi salah satu industri tradisional di Panggungharjo Sewon Bantul, yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Dibyo Sumarto sudah mendirikan usaha ini, sejak tahun 1962.

Sebelum mendirikan usaha Kain Tenun Lurik Kurnia, Dibyo Sumarto bekerja sebagai buruh pabrik tenun di sekitar Yogyakarta. Berbekal pengalaman, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya untuk membangun usaha sendiri.

Pada awalnya, usaha ini dijalankan secara sederhana dengan tenaga keluarga. Namun seiring meningkatnya permintaan, usaha Kain Tenun Lurik Kurnia berkembang pesat hingga melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja.

Kehadiran usaha Kain Tenun Lurik Kunia, mampu menjaga tradisi tenun lurik di Yogyakarta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi lingkungan sekitarnya. Kini, usaha tersebut diteruskan hingga ke generasi ketiga, yaitu Deshinta.

Meski berakar kuat pada tradisi, Kain Tenun Lurik Kurnia tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Para desainer modern sangat berminat pada kain lurik, yang digunakan sebagai bahan dan kombinasi busana modern.

Maka, produsen kain tenun melakukan berbagai inovasi dengan mengembangkan produk turunan. Seperti tas, tas jinjing, hingga pouch yang memadukan keindahan motif dengan kebutuhan gaya hidup modern.

Inovasi menjadi langkah penting untuk memperluas pasar, sekaligus mengenalkan kain lurik kepada generasi muda dengan cara yang lebih relevan dan menarik. Pembuatan Kain Lurik Kurnia masih mempertahankan cara tradisional.

Proses dimulai dari pewarnaan benang putih, yang dicelupkan ke dalam pewarna sesuai kebutuhan motif yang akan dibuat. Setelah itu, benang hasil pewarnaan dipintal, untuk menghasilkan kekuatan dan kualitas yang seragam.

Tahap berikutnya penyusunan motif, dimana setiap helai benang harus ditempatkan dengan sangat cermat, untuk membentuk pola yang diinginkan. Ketelitian menjadi faktor utama karena kesalahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan motif.

Setelah motif tersusun, proses penenunan dimulai dan dilakukan para pekerja yang memasuki usia lanjut. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi usaha tersebut, yakni sulitnya mencari regenerasi penenun muda.

Pekerjaan menenun membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan ketelitian tinggi. Dalam satu lembar kain lurik, sekitar 2.000 helai benang harus ditenun secara rapi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....