Sosro Warsito dan Dedikasi Panjang Melestarikan Blangkon Yogyakarta

  • 30 Mei 2026 21:54 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul – Di usia yang telah menginjak 78 tahun, Sosro Warsito masih setia menekuni profesi yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun. Dari rumah sederhananya di Padukuhan Clorot, Kalurahan Semanu, Gunungkidul, ia terus merawat warisan budaya Jawa melalui kerajinan blangkon yang ditekuninya sejak awal tahun 1970-an.

Pria yang akrab disapa Sosro Blangkon itu menghabiskan hari-harinya dengan melipat, menjahit, dan membentuk kain batik menjadi blangkon khas Yogyakarta. Baginya, pekerjaan tersebut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan bentuk pengabdian terhadap budaya Jawa yang diyakininya akan tetap hidup sepanjang masa.

"Saya menekuni pekerjaan ini karena punya keyakinan. Selama orang Jawa masih ada, blangkon tidak akan punah," ujarnya mantap.

Perjalanan Sosro menjadi pengrajin blangkon berawal pada 1969 ketika ia aktif dalam kelompok karawitan. Saat mendapat tugas memesan blangkon kepada pengrajin bernama Kasan Dayat di Piyaman, Wonosari, ketertarikannya terhadap kerajinan tersebut semakin tumbuh. Berbekal kecintaan terhadap budaya Jawa, ia kemudian memutuskan untuk belajar langsung kepada sang pengrajin.

Selama setahun, Sosro menjalani proses belajar dengan penuh kesungguhan. Selain mempelajari teknik pembuatan blangkon, ia juga membantu berbagai pekerjaan gurunya sehari-hari. Dedikasi tersebut membuat Kasan Dayat mempercayakan seluruh peralatan pembuatan blangkon kepadanya saat kondisi kesehatannya menurun. Setelah sang guru wafat, Sosro mulai menerima pesanan sendiri.

"Tahun 1970 saya mulai menerima dan mengerjakan pesanan blangkon sendiri," ujarnya.

Sejak saat itu, kehidupan Sosro tak pernah lepas dari kain batik, jarum, dan proses pembuatan blangkon yang membutuhkan ketelitian tinggi. Ia secara khusus menekuni blangkon gaya Yogyakarta atau Mataraman Yogyakarta dan tidak membuat model Surakarta.

"Karena dulu saya hanya diajari membuat blangkon Yogyakarta. Sebelum sempat belajar model Surakarta, guru saya sudah meninggal dunia," katanya.

Pilihan tersebut justru membuatnya dikenal sebagai salah satu pengrajin yang konsisten menjaga keaslian blangkon gaya Yogyakarta. Dalam proses pembuatannya, terdapat tahapan wiru atau lipatan kain yang membutuhkan ketepatan tinggi. Pada bagian tertentu, kain harus dilipat hingga 15 sampai 17 kali agar menghasilkan bentuk yang presisi dan simetris.

Menurut Sosro, proses penyusunan lipatan menjadi bagian paling menantang karena kesalahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan bentuk blangkon. Karena itu, sebagian besar tahapan produksi masih ia kerjakan sendiri. Sang istri, Surami, turut membantu pada proses menjahit dan pekerjaan lainnya.

Ketika pesanan meningkat, beberapa warga sekitar ikut membantu proses produksi. Namun, tahap akhir tetap berada di tangan Sosro untuk memastikan kualitas hasil kerajinannya tetap terjaga. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan sekitar tiga blangkon, terutama jika kain telah lebih dahulu melalui proses wiru.

Karya-karyanya kini diminati pelanggan dari berbagai daerah, tidak hanya dari DIY dan Jawa Tengah, tetapi juga Lampung, Kalimantan, Bali, Surabaya, Malang, Kebumen, hingga Pacitan. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa blangkon masih memiliki tempat di tengah masyarakat modern.

"Yang memakai blangkon sekarang bukan hanya orang Jawa. Banyak dari daerah lain juga memesan. Itu membuat saya semakin yakin bahwa blangkon masih dibutuhkan," ujarnya.

Blangkon buatan Sosro dijual dengan harga antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per buah, tergantung jenis kain batik yang digunakan. Beragam motif tersedia, mulai dari Kumitir Tulis, Modang Tulis, Winarnan, Kumitir Prima, Modang Prima, Poleng Prima, Celeng Kewengen, Kesuma Prima, Wilis, hingga motif polos atau wulung. Di antara berbagai pilihan tersebut, motif Kumitir menjadi yang paling banyak diminati pembeli.

Meski demikian, keuntungan ekonomi bukanlah tujuan utama yang dikejarnya. Sosro lebih menaruh perhatian pada upaya pelestarian budaya agar tradisi membuat blangkon tetap dikenal oleh generasi mendatang.

"Saya ingin nguri-uri budaya Jawa. Jangan sampai budaya membuat blangkon ini hilang atau kalah dengan budaya lain," katanya.

Dedikasi dan konsistensinya dalam menjaga warisan budaya Jawa mengantarkan Sosro Warsito menerima Anugerah Kebudayaan DIY 2025 dari Pemerintah Daerah DIY. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam melestarikan kerajinan blangkon yang merupakan bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb) masyarakat Jawa.

Namun bagi Sosro, penghargaan terbesar adalah ketika ia masih melihat masyarakat mengenakan blangkon dalam berbagai kegiatan adat dan budaya. Di tengah perubahan zaman, ia tetap optimistis bahwa budaya akan terus bertahan selama masih ada generasi yang mencintai dan menjaganya.

"Saya berharap selama orang Jawa masih ada, blangkon tidak akan pernah punah. Itu yang selalu saya pegang sampai sekarang," ujarnya.

Di rumah kecilnya di Clorot, keyakinan itu terus diwujudkan melalui setiap jahitan dan lipatan yang ia kerjakan, menjaga warisan budaya Jawa tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....