Berakhir Damai dalam Suasana Kekeluargaan Kasus Balita Dilakban di Bantul

  • 05 Jun 2026 11:29 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul – Kasus seorang ibu yang melakban anaknya lalu meninggalkannya seorang diri di kontrakan wilayah Kedaton, Pleret, Bantul, kini berakhir damai. Sang suami batal melaporkan istrinya dan memilih menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto menyatakan, pasca-insiden tersebut polisi sudah melakukan mediasi antara sang ibu yakni TKS (25), dengan suaminya, RF. Hasilnya, RF meminta maaf karena telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat maupun jagat maya.

“Atas kejadian tersebut, RF selaku kepala rumah tangga atau wali korban tidak ingin melaporkan pelaku atau ibu kandung korban dan memilih untuk memperbaiki rumah tangga,” ucapnya, Jumat, 5 Juni 2026.

Rita menambahkan, saat ini RF juga sudah memaafkan sang istri. Keduanya berjanji sanggup memperbaiki hubungan rumah tangga mereka.

“Sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi dan sudah diselesaikan secara kekeluargaan,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, motif seorang ibu yang tega melakban mulut, tangan, dan kaki anaknya lalu ditinggal sendirian di salah satu kontrakan wilayah Kedaton, Pleret, Bantul telah terungkap. Usai diperiksa polisi, sang ibu mengaku kelelahan mengurus anak seorang diri.

Iptu Rita Hidayanto menjelaskan, identitas ibu korban yakni TKS (25) asal Patuk, Gunungkidul. Kepada petugas, TKS mengaku hanya ingin melepas penat dengan cara keluar rumah.

“Pelaku dalam hal ini ibu kandung korban melakban anak dengan tujuan untuk refreshing, jalan-jalan melepas penat usai merasa lelah mengasuh anak sendirian,” ucapnya, Rabu, 3 Juni 2026.

Sehari-hari, TKS memang merawat anak berusia tiga tahun tersebut sendirian. Pasalnya, sang ayah tengah mencari nafkah di luar daerah dan hanya pulang sebulan sekali.

“Sedangkan suami pelaku atau ayah korban bekerja di Jakarta dan pulang ke Yogyakarta sebulan sekali,” katanya.

Terkait alasan TKS melakban dan meninggalkan anaknya sendirian di kamar kontrakan, lanjut Rita, hal itu dilakukan secara spontan. Ibu korban diduga terlalu lelah dan tidak bisa berpikir jernih.

“Tindakan melakban tersebut tidak dipikirkan oleh pelaku risiko apa yang bisa terjadi pada anak, karena sudah terlalu capek mengurus anak sendiri,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....