Tangis Haru Warga Binaan LP Wirogunan, Berbalut Kain Ihram Ikuti Manasik Haji

  • 31 Mei 2026 20:18 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Suasana khidmat dan haru layaknya di Tanah Suci Mekkah ternyata tidak hanya milik jemaah haji di Arab Saudi. Atmosfer religius yang menyentuh hati tersebut juga nyata dirasakan di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Wirogunan, Yogyakarta, pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026.

Sebanyak 100 warga binaan, yang kini akrab disapa sebagai santri oleh Kalapas LP kelas IIA Marjiyanto, mengikuti kegiatan simulasi atau manasik haji dengan penuh kesungguhan di halaman tengah lapas yang sejuk dan asri.

Mengenakan kain ihram, tanpa alas kaki, para santri nampak bersemangat dalam melafazkan kalimat talbiyah. Pemandangan kontras namun menyentuh terlihat saat beberapa santri yang tubuhnya dipenuhi tato, justru menjadi salah satu yang paling khusyuk hingga meneteskan air mata.

Sebelum memulai prosesi, mereka berkumpul di masjid Al Fajar dengan diberikan pengantar khutbah wukuf di Arafah oleh Ustaz Munif Taukhid, Kalapas Marjiyanto, Taufik Ridwan dan santri Nur Ahmad Afandi. Susana syahdu dan merinding ketika seluruh santri ajak membaca selawat bersama.

Para santri dipandu oleh H Taufik Ridwan Direktur Utama Latifa Haramain untuk mengambil kerikil dengan Sejumlah 70 untuk melempar jumrah ula, wustha, dan aqobah. Para santri sesuai melakukan wukuf langsung melempar jumroh yang kerikilnya digantikan dengan biji jagung dengan penuh semangat, apalagi dengan sangat yakin peristiwa itu alah simbolisasi melempar setan dan iblis yang telah membuat para santri harus mendekam dibalik jeruji.

Bahkan, beberapa santri tampak histeris dan menangis sejadi-jadinya, mengingat bagaimana godaan kelam masa lalu telah menghancurkan keharmonisan keluarga mereka.

Seusai melempar jumrah, santri diajak masuk halaman kakbah utk thawaf dilanjut sa'i. Disaat thawaf, sembari doa banyak yang merasakan trenyuh dan meneteskan air mata karena seolah benar-benar di depan kakbah.

"Saya sangat berharap kelak, sekeluar dari Wirogunan, bisa ke tanah Suci baik untuk umrah atau berhaji," kata Mery salah satu santri penghafal 13 juz.

Menariknya, kehidupan di balik jeruji besi LP Wirogunan kini telah bertransformasi menjadi pesantren. Banyak santri yang berhasil menghafal lebih dari 5 juz Quran selama masa tahanan. Bahkan, terdapat salah satu warga binaan yang luar biasa telah mengkhatamkan Alquran sebanyak 217 kali.

Ustaz Munif Tauhid, yang juga pernah menjalani pembinaan di lapas tersebut, menegaskan bahwa stereotip penjara sebagai tempat penyiksaan sama sekali tidak benar.

"Banyak hikmah di sini. Mereka bisa lebih khusyuk mengaji dan mengamalkan Islam yang sebenarnya karena hampir setiap hari ada kajian Islam. Karena kegiatan ngaji ini disiarkan di Vertizone TV, keluarga di rumah bisa melihat langsung aktivitas positif mereka dan merasa bersyukur," ujarnya.

Kegiatan manasik haji yang berlangsung sukses dan menyentuh hati ini ditutup dengan sesi makan bersama yang turut didampingi oleh beberapa pengurus Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) DIY.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....