Menyikapi Permasalahan Hidup dalam Ajaran Agama Islam
- 23 Mei 2026 03:58 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Dalam menghadapi persoalan hidup, pasti ada rasa sedih, marah, kecewa dan bahagia. Hal seperti itu wajar karena itulah emosi dasar manusia. “Tetapi jangan bingung dalam menghadapi masalah. Karena bingung itu berkaitan dengan pemaknaan hidup. Orang yang beriman boleh menangis tapi tidak boleh putus asa.” ucap Ustad Fadli Reja Nasir dari Jejak-Jejak Jiwa Yogyakarta dalam Mutiara Pagi Kamis, 21 Mei 2026.
Allah berfirman dalam Surat Al Insyirah “Fa inna ma'al usri usro” Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Hendaknya umat muslim memahami ini dan percaya akan janji Allah.
Manusia pasti merasakan sedih, terlebih jika ditimpa musibah. Islam membedakan antara sedih yang melembutkan hati dengan kebingungan yang matikan arah hidup.Islam tidak melarang manusia merasakan sedih tetapi melarang manusia larut dalam kehidupan yang kehilangan arah dan kekacauan jiwa.
Pondasi tauhid penting ditanamkan dalam diri agar ekspresi kehidupan yang dijalani tidak melampaui batas syariat. Islam mengajarkan mengendalikan rasa agar tidak menguasai akal dan iman.
Selanjutnya dalam pandangan psikologi modern, kebingungan berkepanjangan sering melahirkan over thinking, cemas, depresi dan merasa tidak memiliki harapan lagi (hopeless). Kecemasan timbul karena seseorang berpikiran negatif pada Allah. Mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Padahal pertolongan Allah sangatlah dekat.
Ujian datang untuk memberikan peringatan kepada manusia. Allah berfirman ”Barang siapa berpaling dari peringatanku maka baginya kehidupan yang sempit.” Jika Allah mengingatkan hambaNya berarti Allah menyayanginya. Sehingga Allah memberi peringatan agar umatnya senantiasa terjaga.
Ustad Fadli juga menambahkan : ”Sedih yang sehat adalah yang membuat seseorang intropeksi mendekat kepada Allah, melembutkan hati, akhirnya melahirkan doa, membuat tawaduk dan menumbuhkan empati.” Sebaliknya ada sedih yang merusak, membuat marah kepada takdir. Menyalahkan semua orang. Menghilangkan harapan. Hingga malas menjalankan ibadah dan mencari jalan pintas dengan melanggar syariat.
Dalam Qur’an surah Yusuf ayat 21 disebutkan tugas manusia adalah berdoa, ikhtiar dan taat. Bukan mengendalikan seluruh hasil. Ustad Fadli juga menyampaikan dalam tausiyah penutupnya ketika manusia merasa kalut, jangan lupa dzikir kepada Allah. Karena hanya dengan zikir kepada Allah, hati menjadi tenang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....