Peringati 28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Kampus Pergerakan
- 21 Mei 2026 23:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Gerakan Reformasi yang kini berusia 28 Tahun, menandai jatuhnya Rezim Orde Baru. Peran mahasiswa saat itu sangat krusial, karena ikut berperan langsung, menggulingkan Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun.
Bertepatan dengan peristiwa bersejarah itu, sebuah buku tentang gerakan mahasiswa, diluncurkan di sebuah restoran di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis 21 Mei 2026. Buku itu berjudul Kampus Pergerakan: Dinamika Perjuangan Mahasiswa Universitas Janabadra 1986–2026.
Salah satu alumni Universitas Janabadra, Heroe Waskito menyebut buku ini, sebagai salah satu dari sedikit catatan tertulis tentang pergerakan mahasiswa. Karena isi buku tersebut, disusun langsung dari perspektif para aktivis yang menjalaninya.
”Buah dari perjalanan panjang perjuangan selama bertahun-tahun, sebelum peristiwa Reformasi,” ucap Ketua Umum Pergerakan Advokat itu. ”Kegelisahan, konsolidasi, aksi, penangkapan, dan tekanan terhadap gerakan mahasiswa di seluruh Indonesia.”
Penyusunan buku tersebut, melalui proses kolektif yang cukup ketat, dengan menghimpun kesaksian para aktivis lintas angkatan dikumpulkan lewat grup WhatsApp. Kemudian diverifikasi silang dengan dokumen internal gerakan.
”Juga verifikasi melalui kliping koran sezaman, dan laporan berbagai lembaga baik nasional maupun internasional,” katanya. ”Dan kini, 28 tahun setelah Reformasi, penegakan hukum di Indonesia menjadi akar masalah yang belum terselesaikan.”
Buku setebal lebih dari 300 halaman itu juga merekam keterlibatan langsung mahasiswa dalam advokasi rakyat. Heru Sahararita, salah satu aktivis era ‘80an, menceritakan bagaimana mahasiswa ketika itu bergerak melakukan advokasi berbagai kasus.
”Seperti kasus Kedung Ombo, kasus di Cilacap, hingga mendampingi warga di kampung-kampung di Yogyakarta sendiri,” ujarnya.
Sedangkan Eko Prastowo, aktivis ‘98 yang kini dikenal sebagai advokat dan pakar AI (kecerdasan buatan) menjelaskan, buku ini ditulis dengan gaya naratif historis. Sehingga pembaca tidak perlu berkerut dahi saat membaca.
”Buku ini memotret kondisi saat itu, karena mahasiswa dan kampus tidak terpisah dari realitas masyarakat,” ucapnya. ”Apa yang terjadi di jalanan saat aksi, hubungan dengan warga sekitar mahasiswa tinggal, termasuk cerita-cerita lucu yang dialami kawan-kawan.”
Buku Kampus Pergerakan diterbitkan komunitas alumni UJB yang tergabung dalam Janabadra Club. Hampir seratus aktivis berpartisipasi dalam penulisan buku ini, seperti Joe Hoo Gi, Firman Jaya Daeli, Heri Sebayang, Lidwina Riestanti, Hary Wisnuadji, Jemmy Setiawan, Aris Sutiyono, hingga aktivis mahasiswa yang saat ini masih kuliah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....