Jelang Iduladha, Perajin Besek di Bantul Kewalahan akibat Banjir Pesanan

  • 21 Mei 2026 19:13 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul – Sepekan menjelang Hari Raya Iduladha, perajin besek bambu di Padukuhan Kaliputih, Pendowoharjo, Sewon, Bantul kebanjiran pesanan. Bahkan, lonjakan permintaan yang signifikan membuat para perajin kewalahan dan terpaksa menolaknya.

Salah satu perajin, Jumini (65), mengaku jika peningkatan pesanan sudah mulai terjadi sejak dua bulan terakhir. Kebanyakan didominasi oleh pesanan besek berukuran 18 sentimeter untuk kebutuhan wadah daging kurban.

“Kurang dua bulan saja sudah banyak yang pesan. Rata-rata pesan 500 lembar yang ukuran 18 sentimeter itu buat daging ukuran satu kilogram. Kebanyakan itu masjid dan panitia kurban,” ucapnya, Rabu, 20 Mei 2026.

Selain besek ukuran kecil, pesanan juga datang untuk besek dengan ukuran lebih besar dengan kapasitas lima kilogram daging. Produk dengan diameter 25 cm tersebut biasanya digunakan oleh panitia kurban saat membagikan daging kepada sohibul kurban.

“Untuk yang ukuran kecil itu harganya Rp65.000 per kodi, satu kodi itu isinya 20 pasang (wadah dan penutup, red). Kalau yang ukuran besar per pasangnya Rp10.000,” ujarnya.

Jumini menyebut, sebagian besar pesanan berasal dari pelanggan lama yang rutin melakukan pemesanan setiap Iduladha. Untuk memenuhi permintaan tersebut, dirinya dibantu lima orang perajin lainnya.

“Saya dibantu lima orang. Kalau sehari bisa buat berapa itu tidak tentu, karena saya baru mulai mengerjakan kalau selesai urusan di dapur,” katanya.

Meski begitu, ia mengaku tetap kewalahan memenuhi seluruh pesanan yang masuk. Terlebih, proses pembuatan besek masih dilakukan secara manual dengan menganyam lembaran bambu satu persatu.

“Saya sudah tidak menerima pesanan lagi, tidak sanggup. Ini hanya mengerjakan pesanan yang sudah masuk saja. Satu besek pengerjannya sekitar lima menit mungkin,” ucapnya menambahkan.

Selain itu, Jumini mengaku jika keterbatasan bahan baku menjadi kendala yang cukup menyulitkan. Ia pun terpaksa harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah. “Kalau ada bambunya ya bisa, kadang bambunya itu sulit didapar. Kalau menanam sendiri tentu lama juag waktunya,” ujar Jumini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....