JFFE 2026 Luncurkan Laporan Dampak Ekosistem Festival
- 21 Mei 2026 10:48 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Jogja Festivals resmi meluncurkan JFFE 2026 Impact Report bertajuk “From Forum to Action: Extending the Impact of JFFE”. Laporan ini menjadi bentuk refleksi sekaligus pemetaan strategis terhadap perkembangan ekosistem festival yang dibangun melalui rangkaian kegiatan Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) 2026, mulai dari Symposium, Forum Festival & Industri Pariwisata, Forum Festival & Ekonomi Kreatif, hingga Festival Investment & Partnership Forum melalui program Business Matching Festival.
Dokumen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai laporan kegiatan, tetapi juga dirancang menjadi panduan strategis yang memotret pembelajaran, tantangan, peluang, serta arah pengembangan ekosistem festival di Indonesia. Peluncuran laporan ini sekaligus menandai perubahan peran JFFE dari sekadar forum tahunan menjadi platform yang mendorong kolaborasi, investasi, dan dampak berkelanjutan.
Ketua Jogja Festivals, Heri Pemad, menyebut terdapat perubahan perspektif terhadap festival dalam beberapa tahun terakhir. “Festival hari ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai ruang perayaan atau penyelenggaraan event. Festival telah berkembang menjadi penggerak ekonomi kreatif, alat penguatan identitas kota, ruang kolaborasi lintas sektor, dan berpotensi menjadi aset ekonomi yang memiliki dampak jangka panjang,” kata Heri Pemad.
Melalui analisis terhadap partisipan, hasil diskusi forum, hingga proses Business Matching, JFFE menilai ekosistem festival di Indonesia memiliki potensi besar berkat keterlibatan komunitas, pelaku ekonomi kreatif, pemerintah, industri, dan berbagai mitra strategis. Namun demikian, laporan tersebut juga mencatat sejumlah tantangan mendasar yang masih perlu dibenahi.
Sejumlah temuan utama dalam JFFE Impact Report 2026 di antaranya menunjukkan festival kini berkembang sebagai instrumen penggerak ekonomi, budaya, dan pariwisata. Di sisi lain, ekosistem festival dinilai masih berjalan secara terfragmentasi dan belum terhubung dalam sistem yang berkelanjutan.
Laporan itu juga menyoroti bahwa pemanfaatan Intellectual Property (IP) dan monetisasi festival belum optimal. Selain itu, sistem data serta pengukuran dampak ekonomi festival dinilai masih belum tersusun secara terstruktur.
Kebutuhan terhadap model investasi dan kolaborasi lintas sektor juga disebut semakin mendesak. Kesiapan ekosistem festival dalam menerima investasi masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti belum kuatnya model bisnis, terbatasnya pipeline proyek, hingga mekanisme investasi yang belum terstruktur.
Selain memotret kondisi terkini, JFFE 2026 turut memperkenalkan sejumlah inisiatif strategis untuk memperkuat keberlanjutan ekosistem festival. Salah satunya adalah peluncuran Festicity, sebuah platform yang dirancang untuk mengintegrasikan festival, pengalaman wisata, pelaku ekonomi kreatif, serta mitra kolaborasi.
Festicity dihadirkan sebagai solusi atas tantangan ekosistem festival yang selama ini masih berjalan terpisah. Festival kerap hanya berlangsung sementara, sedangkan peluang pengalaman wisata, kolaborasi bisnis, dan distribusi manfaat ekonomi di sekitarnya belum terhubung secara maksimal.
Melalui platform tersebut, festival diharapkan berkembang menjadi sebuah festival journey yang lebih luas dan terintegrasi. Saat ini, Festicity telah memasuki tahap awal implementasi dan mulai dapat diakses publik melalui paket serta pengalaman festival yang disediakan secara bertahap.
Pengembangannya ke depan akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari penyelenggara festival, pelaku ekonomi kreatif, mitra usaha, hingga sektor pariwisata. Festicity juga diproyeksikan membuka peluang kolaborasi lebih luas bersama tour operator, travel partner, serta penyedia pengalaman wisata untuk menghadirkan paket wisata festival yang terhubung dengan akomodasi, transportasi, destinasi, kuliner, dan pengalaman budaya lokal.
Dengan pendekatan tersebut, festival tidak lagi hanya menjadi alasan wisatawan datang ke suatu kota, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju pengalaman wisata yang lebih menyeluruh dan berdampak bagi ekonomi lokal. “Festicity kami bayangkan bukan hanya sebagai platform tiket atau katalog festival. Festicity merupakan ruang yang menghubungkan festival, perjalanan, pelaku kreatif, dan berbagai kemungkinan kolaborasi ke dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” ujar Dinda Intan Pramesti Putri.
Peluncuran Festicity menjadi langkah awal transformasi JFFE dari ruang diskusi menuju ruang implementasi. Kehadirannya diharapkan semakin memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota festival sekaligus membuka model kolaborasi baru antara festival, industri kreatif, dan sektor pariwisata.
Melalui laporan ini, JFFE menegaskan bahwa masa depan festival tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan yang digelar, melainkan pada kemampuan membangun sistem yang mampu menghubungkan berbagai pihak dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“Yang dibutuhkan bukan lebih banyak festival, tetapi ekosistem yang lebih kuat. JFFE Impact Dialogue hadir untuk memastikan bahwa ide, jejaring, dan kolaborasi yang telah terbentuk dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata dan dampak yang berkelanjutan,” kata Dinda.
Jogja Festivals berharap laporan ini dapat menjadi kontribusi dalam memperkuat ekosistem kota festival sekaligus menjadi referensi bagi pemerintah, pelaku festival, komunitas, industri kreatif, investor, akademisi, hingga berbagai pihak lainnya dalam memperkuat posisi festival sebagai bagian penting pembangunan budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata di Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....