KOSTI Ngonthel Keliling Yogyakarta, Ada Sepeda Tahun 1950-an hingga Sepeda Perang
- 17 Mei 2026 13:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Ratusan pesepeda yang tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) menggelar event ngonthel keliling kota di kawasan Benteng Vredeburg, Minggu, 17 Mei 2026. Para pesepeda memulai pawai onthel keliling kota dengan rute Benteng Vredeburg dan Malioboro lalu kembali ke Benteng Vredeburg. Kegiatan ini turut diikuti oleh ratusan anggota KOSTI dari seluruh Indonesia.
Ketua KOSTI Purnomo menyebut kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi bagi para anggota komunitas sekaligus memperkenalkan sepeda tua kepada masyarakat luas, termasuk kepada anak-anak muda. Purnomo mengatakan sepeda tua tak lagi hanya diganderungi oleh generasi tua saja. Anak-anak muda juga mulai melirik sepeda tua sebagai hobi yang menyenangkan. Purnomo menambahkan, berbagai upaya juga dilakukan untuk mengenalkan sepeda tua kepada anak-anak muda. Ini diterapkan Purnomo ketika menjabat Ketua KOSTI Jawa Timur melalui program onthel masuk kampus dan onthel masuk sekolah.
| Baca juga: Nikmati Hobi Bersepeda dengan Sehat dan Aman |
“Itu program kita sudah terlaksana waktu itu di Jember. Setiap ada acara inagurasi mesti ada event sepeda onthel. Ada juga onthel masuk pesantren, di Probolinggo itu, hampir setiap 2 tahun sekali,” kata Purnomo saat ditemui di Benteng Vredeburg, Minggu, 17 Mei 2026.
Purnomo menambahkan bahkan ada sebagian pelajar di Jawa Timur yang justru merayakan kelulusan tidak dengan konvoi menggunakan motor berknalpot brong, tapi dengan ngonthel keliling kota.
Sementara, Purnomo menyebut sepeda tua yang dimiliki oleh anggota KOSTI lahir dari tahun yang berbeda-beda. Paling tua yakni sepeda yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Sejatinya ada pula sepeda tua yang sudah ada sejak 1930-an, tapi sepeda itu cenderung hanya dirawat saja dan tidak untuk dikendarai. Untuk jenisnya, Purnomo menyebut sepeda tua di Indonesia cenderung berkiblat pada model sepeda ala Belanda. Ada sepeda heren yang identik dengan sepeda yang dikendarai laki-laki dan sepeda dames yang dikendarai oleh perempuan.
“Ada lagi sepeda tandem tapi yang versi lama, bukan tandem yang seperti sekarang. Jadi tahun-tahun 30-an itu sudah ada tandem. Dan juga sepeda biasanya sepeda-sepeda untuk perang. Jadi seperti BSA Airborne atau apapun itu teman-teman ada yang ngoleksi,” ucap Purnomo.
Koordinator Olahraga Tradisional dan Kreasi Budaya Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Risqi Amrulloh mengaku mengapresiasi berbagai kegiatan yang dilakukan oleh KOSTI. Menurutnya, KOSTI tak hanya sekadar memiliki semangat untuk bermain sepeda, tapi juga rekreasi sekaligus sebagai salah satu wujud olahraga yang menyehatkan tubuh. Sepeda tua juga kini tak terbatas diganderungi generasi tua saja. Dia berharap KOSTI bisa terus eksis dan dapat terus beraktivitas dan berkreasi.
“Dengan begitu masyarakat lebih mengenal lagi sepeda onthel. Ini lebih dari sekadar hanya komunitas sepeda tua semata. Tapi juga menyehatkan masyarakat, menjaga budaya, membahagiakan orang-orang yang melihat. KORMI mendukung semua aktivitas olahraga di semua lapisan masyarakat,” kata Risqi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....