Menolak Punah, Kue Adrem Bantul Kembali Jadi Primadona Kuliner Nusantara

  • 16 Mei 2026 09:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta- Kue adrem, kudapan tradisional khas Bantul yang sempat meredup, kini kembali bersinar berkat inisiatif program unggulan "One Village One Product" di Kalurahan Murtigading. Tini, salah satu sosok penggerak dan menjadi garda terdepan dalam melestarikan warisan budaya kuliner ini agar tetap eksis di tengah gempuran makanan modern.

Awal mula kebangkitan adrem ini diinisiasi oleh pemerintah kalurahan setempat sejak tahun 2015 untuk mengangkat potensi lokal yang hampir punah. Tini menjelaskan bahwa pemilihan adrem sebagai ikon desa bertujuan agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai produk warisan nenek moyang mereka.

Inovasi menjadi kunci utama Tini dalam mempertahankan kualitas adrem agar dapat diterima oleh masyarakat luas hingga ke luar provinsi. Salah satu terobosan penting yang dilakukan adalah memastikan proses produksi sesuai dengan standar kesehatan dan sertifikasi halal tanpa menghilangkan sisi tradisionalnya.

“ Kami selalu memastikan bahwa produk kami aman dan sehat serta kualitas baik,” katanya saat berbincang beberapa waktu lalu.

Perbedaan mencolok pada adrem buatan Tini terletak pada tekstur yang lebih renyah di luar namun tetap lembut dan manis di dalam. Selain itu, ia berhasil meminimalkan kandungan minyak berlebih yang biasanya identik dengan kue adrem konvensional sehingga lebih nyaman disantap.

Bahan baku yang digunakan tetap mempertahankan keaslian, yaitu perpaduan tepung beras, gula jawa, sedikit gula pasir, kelapa parut, dan garam. Proses pembuatannya pun masih sangat manual, mulai dari perendaman beras hingga penggilingan yang melibatkan paguyuban warga setempat.

Keunikan lain dari produksi adrem ini adalah adonan yang sudah dicampur harus didiamkan atau diinapkan terlebih dahulu selama satu malam sebelum digoreng. Hal ini dilakukan untuk memperkuat struktur adonan agar tidak hancur saat terkena minyak panas dan menghasilkan cita rasa yang optimal.

Saat ini, terdapat enam titik produksi adrem di wilayah tersebut yang terus aktif memenuhi permintaan pasar yang kian meningkat. Bu Tini berharap melalui konsistensi ini, kue adrem tidak hanya menjadi sekadar camilan, tetapi juga simbol ketahanan budaya kuliner Nusantara.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....