Sulap Lahan Sempit, Lidah Buaya menjadi Kemandirian di Kadipaten

  • 04 Mei 2026 10:43 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta--Di tengah menyempitnya lahan perkotaan dan tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, inovasi kemandirian masyarakat melalui optimalisasi pekarangan menjadi pilar utama yang tidak dapat ditawar lagi bagi masa depan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penumbuhan semangat kewirausahaan dan ketahanan pangan kini harus dipandang sebagai investasi esensial, terutama guna membangun ekosistem ekonomi kreatif di tengah bayang-bayang sikap apatis generasi muda dan keterbatasan ruang di kawasan perkotaan.

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam program dialog "Mbangundesa" yang disiarkan oleh Pro 4 RRI Yogyakarta beberapa waktu lalu, dengan menghadirkan narasumber Ketua Kelompok Tani Kencana Asri Darini, Ketua LPMK Kadipaten Haryawan Emir Nuswantoro, serta perwakilan KTNA Kota Yogyakarta Dwi Dharma. Dalam diskusinya, ketiga tokoh ini membedah bahwa eksistensi budidaya lidah buaya tidak lepas dari upaya mendongkrak ekonomi keluarga sekaligus merawat lingkungan melalui pemanfaatan limbah di kawasan Kemantren Kraton.

Nilai-nilai pemberdayaan tersebut bukan sekadar wacana di tingkat kelurahan, melainkan energi aktif yang telah diinternalisasi dalam kehidupan warga Dalem Kaneman, Kadipaten sejak tahun 2000. Secara sosial dan ekonomi, masyarakat seharusnya bermuara pada satu tujuan bersama, yaitu meningkatkan kesejahteraan melalui pengolahan hasil panen. Jika fondasi kreativitas ini goyah, maka cita-cita melepaskan warga dari ketergantungan ekonomi dan memaksimalkan lahan sempit pun akan sulit dicapai.

dialog "Mbangundesa" yang disiarkan oleh Pro 4 RRI Yogyakarta beberapa waktu lalu, dengan menghadirkan narasumber Ketua Kelompok Tani Kencana Asri Darini, Ketua LPMK Kadipaten Haryawan Emir Nuswantoro, serta perwakilan KTNA Kota Yogyakarta Dwi Dharma. Dalam diskusinya, ketiga tokoh ini membedah bahwa eksistensi budidaya lidah buaya tidak lepas dari upaya mendongkrak ekonomi keluarga sekaligus merawat lingkungan melalui pemanfaatan limbah di kawasan Kemantren Kraton.

Namun, realita di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Pesatnya gaya hidup modern ibarat rintangan yang jika tidak dibarengi dengan regenerasi petani perkotaan, justru akan memperlebar celah kemacetan inovasi. Generasi muda kini sering kali terjebak dalam zona nyaman dan kurang berminat meneruskan tongkat estafet pertanian urban. Darini mengamati bahwa memotivasi anak muda untuk mau turun langsung bergabung dalam kelompok tani yang dari 30 anggotanya kini mayoritas diisi kalangan senior adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan pendekatan khusus.

Guna membentengi hal tersebut, diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan kelompok tani, pendamping pertanian, hingga pemangku kebijakan. Di level pendampingan, program KTNA Kota Yogyakarta mendorong pengembangan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya menggunakan limbah galon bekas, hingga merambah pada penciptaan produk turunan bernilai ekonomi seperti sabun, stik, minuman segar, teh seduh, hingga es krim lidah buaya. Sementara itu, di tingkat kelembagaan, keterlibatan aktif LPMK dalam memfasilitasi anggaran dan pelatihan konten kreator dianggap efektif untuk menyosialisasikan pentingnya ekosistem pariwisata terpadu.

Terkait urgensi peran masyarakat tersebut, Haryawan menekankan tentang pentingnya sinergi kawasan pariwisata dan ekonomi kreatif. "Kita dorong warga ini untuk mendukung penuh program kita Wis Kawentar, yakni Wisata Kadipaten Wahana Seni Ekonomi Kreatif Budaya dan Tradisi, dengan memperkuat produk olahan lidah buaya ke depan supaya jadi produk unggulan Kadipaten," ujarnya.

Lebih lanjut, Dwi Dharma juga menyoroti peran penting pemanfaatan lahan terbatas dalam menjaga produktivitas masyarakat perkotaan. "Ibarat lahan sempit itu sesempit apapun. Ini Kencana Asri pakai walaupun barang bekas seperti galon sudah bisa dibudidayakan," ujarnya. Beliau menegaskan bahwa edukasi pengolahan yang memunculkan nilai ekonomi sangat penting agar gerakan budidaya ini berjalan sesuai dengan peningkatan kesejahteraan warga.

Sebagai penutup, seluruh narasumber mengajak elemen masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam dan aksi nyata mulai dari lingkup terkecil, yaitu pekarangan rumah masing-masing. Kemandirian ekonomi keluarga di Yogyakarta harus terus dijaga dan dirawat sebagai tanggung jawab kolektif. Investasi pada keterampilan warga yang mau berinovasi hari ini akan menjadi penentu apakah Yogyakarta mampu tetap berdaya, kreatif, dan istimewa pada masa-masa yang akan datang.(mayang)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....