Ramayana Purawisata Lestarikan Budaya dan Karakter Gen Z
- 21 Apr 2026 07:27 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta--Sendratari Ramayana Ballet Purawisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus memperkuat peran nyatanya dalam pelestarian seni budaya dan edukasi moral masyarakat. Menginjak usia emas 50 tahun eksistensinya, langkah konsisten ini dinilai sangat krusial untuk mengenalkan nilai-nilai adiluhung kepada generasi Z di tengah derasnya arus modernisasi dan pergeseran tren hiburan digital.
Diskusi mendalam mengenai napas panjang kesenian ini di siaran “Kawruh” RRI Pro 4 Yogyakarta Senin 20 April 2026, bersama Tim Ahli Pengembangan Budaya Mandira Baruga sekaligus mantan penari panggung Isti Rahayu, S.P.d dan Limawan Nugroho sebagai Koordinator Event Purawisata.
Isti menekankan bahwa esensi dari sendratari ini bukanlah sekadar hiburan visual. Menurutnya, pemaknaan karakter yang mendalam dari tokoh-tokoh pewayangan menjadi medium edukasi agar generasi muda memiliki pandangan yang luas dan kritis.
"Ramayana Ballet Purawisata ini tidak hanya sekedar tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat dengan berbagai edukasi. Jangan sampai kita melihat hanya di permukaan saja, ujar Isti.
Isti menambahkan misalnya, sosok Sinta melambangkan kesuburan, dan Rahwana sebenarnya melakukan berbagai cara supaya rakyatnya makmur sejahtera. Kita diajarkan untuk berpikir panjang, jangan sumbu pendek dalam melihat suatu masalah.
Menyambung hal tersebut, Koordinator Event Purawisata, Limawan Nugroho atau Pak Lim, menjelaskan bahwa eksistensi pertunjukan ini dirancang melalui kedisiplinan dan adaptasi yang luar biasa. Baginya, perpaduan antara totalitas seniman di panggung dan pemanfaatan dunia digital adalah kunci utama agar kesenian ini sukses menjangkau demografi penonton usia muda.
"Yang paling penting adalah kekompakan, loyalitas, dan totalitas penari. Kami mampu tampil non-stop hingga mendapat rekor MURI, melewati gempa 2006, hujan abu Merapi, dan hanya terhenti oleh Covid-19. Kini pengunjung domestik dan Gen Z sangat tinggi karena kami melakukan banyak improve tarian yang atraktif, termasuk menghadirkan pertunjukan inovatif Magnificent setiap bulan," ujar Pak Lim.
Menariknya, pendidikan karakter melalui Sendratari Ramayana ini disampaikan murni tanpa dialog lisan. Melalui olah wiraga (gerak), wirasa (penjiwaan), dan wirama (irama), nilai-nilai luhur budaya lokal diangkat menjadi metode yang universal untuk menanamkan kedisiplinan dan empati, melampaui batas-batas bahasa lisan.
"Dari gerakan wirasa dan wiraga tadi, tersampaikan pesan bahwa kita untuk bertutur kata pun juga harus ada etika dan etiket. Penonton diajak belajar dari nilai kesetiaan Sinta, keberanian Rama, hingga bagaimana mengemban amanah yang dicontohkan oleh ksatria Anoman," ujar Pak Lim.
Warisan konsistensi dan pelestarian yang telah ditorehkan oleh Sendratari Ramayana Ballet Purawisata selama lima dekade ini bukan sekadar catatan rekor sejarah hiburan pariwisata. Ketangguhan dan adaptasi tersebut menjadi penunjuk arah sekaligus fondasi yang kokoh untuk menavigasi pelestarian seni ke depan, memastikan generasi penerus bangsa tetap memiliki ruang untuk berakar pada budaya dan menumbuhkan karakter yang luhur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....