Kartini Masa Kini Hadapi Tantangan Digitalisasi

  • 20 Apr 2026 15:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam berbagai peran perempuan masa kini, termasuk di dunia pendidikan. Peringatan Hari Kartini menjadi momentum bagi para perempuan untuk menggelorakan nilai perjuangan Kartini melalui tindakan nyata. Salah satunya ditunjukkan oleh Sunarni, seorang pendidik yang meneladani semangat Kartini dengan mengajar anak didiknya penuh empati dan sentuhan keibuan.

Bagi Sunarni, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses membentuk karakter. Terlebih, Indonesia memiliki cita-cita untuk mewujudkan generasi emas 204 mendatang. Hal ini selaras dengan perjuangan Kartini yang tidak hanya memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, tetapi juga mendorong lahirnya generasi perempuan yang berdaya dan berakhlak.

Sebagai guru Bahasa Indonesia, Sunarni aktif mengajak siswa untuk menulis, bercerita, serta mengenal kisah-kisah inspiratif, termasuk dari sosok Kartini. Upaya ini dilakukan untuk menanamkan nilai perjuangan sekaligus membangun kepercayaan diri para siswa, khususnya perempuan.

“Kemudian juga membentuk karakter anak-anak supaya tetap di koridornya sebagai seorang perempuan,” ucap Sunarni saat dihubungi, Senin, 20 April 2026.

Tak hanya di dalam kelas, Sunarni juga memberikan pembekalan keterampilan kepada siswanya, seperti mewiru, memasang kain, hingga membuat seserahan. Menurutnya, keterampilan ini menjadi bagian dari upaya membentuk kemandirian dan kesiapan perempuan dalam menghadapi kehidupan, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya.

Meski demikian, dia mengakui tantangan mendidik anak di era digital saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut peran aktif orang tua, khususnya ibu, dalam memberikan pendampingan dan penguatan nilai kepada anak.

“Butuh filter yang kuat, iman yang kuat supaya di dalam menyikapi dunia digital ini anak-anak bisa memilih mana yang baik dan yang tidak baik. Tentunya memerlukan pendampingan dari seorang ibu, dari orang tua,” ujarnya.

Sejalan dengan Sunarni, Anggota Dewan Pendidikan DIY Bangun Putra Prasetya menilai peran orang tua, termasuk ibu menjadi kunci dalam menciptakan generasi emas 2045 di tengah arus digitalisasi. Dia menegaskan, pengawasan di lingkungan keluarga tak bisa diabaikan, mengingat waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah dibandingkan di sekolah.

“Bahwasanya anak di sekolah itu hanya sekitar 6 jam, 7 jam. Selebihnya itu ada di rumah. Jadi bagaimana peran serta orang tua itu sebetulnya menjadi hal yang krusial, khususnya di dalam proses pengawasan,” kata Bangun.

Menurutnya, tanpa pengawasan yang optimal, kemajuan teknologi justru berpotensi disalahgunakan oleh anak untuk mengakses konten negatif. Oleh karena itu, kaum ibu dituntut tidak hanya menjadi pendidik di rumah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta aktif memantau aktivitas anak, termasuk di media sosial.

Melalui peran perempuan baik sebagai pendidik di sekolah maupun di rumah, semangat Kartini terus relevan hingga kini. Dengan demikian diharapkan akses pendidikan bisa terbuka dan generasi muda tumbuh dengan karakter kuat di tengah tantangan era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....