BPBD Kota Yogyakarta Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Pancaroba
- 10 Apr 2026 09:58 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Memasuki peralihan musim atau pancaroba, Pemerintah Kota Yogyakarta terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Pemkot terus meningkatkan langkah antisipasi menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang dapat terjadi.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK & DIKK) BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto mengatakan, dalam beberapa minggu terakhir, cuaca di Kota Yogyakarta mengalami perubahan yang cukup signifikan, mulai dari panas terik hingga hujan deras disertai angin kencang. Kondisi ini menimbulkan sejumlah dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Darmanto mengingatkan, agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko akibat cuaca yang tidak menentu. Ia juga mengingatkan adanya potensi longsor skala kecil, seperti talud ambrol atau tebing sungai yang labil akibat kondisi tanah jenuh air setelah hujan berulang.
“Angin kencang yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan atap rumah, terutama saat hujan deras datang secara tiba-tiba setelah cuaca panas,” katanya, dikutip Jumat, 10 April 2026.
Hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat dijelaskan Darmanto, juga berpotensi menimbulkan genangan air hingga banjir lokal, khususnya di wilayah dengan sistem drainase terbatas. Warga yang tinggal di bantaran sungai juga diminta lebih waspada terhadap kemungkinan kenaikan debit air secara mendadak.
“Tidak kalah penting, risiko petir dan cuaca ekstrem lainnya juga dapat membahayakan aktivitas masyarakat di luar ruangan,” ucapnya.
BPBD Kota Yogyakarta terus melakukan pemantauan kondisi cuaca dan tinggi muka air sungai secara real-time, khususnya di Sungai Code, Winongo, dan Gajahwong sebagai bagian dari sistem peringatan dini.
“Kesiapsiagaan personel dan Tim Reaksi Cepat (TRC) juga diaktifkan selama 24 jam guna merespons secara cepat berbagai kejadian darurat seperti pohon tumbang maupun genangan air. Di mana, sudah tercatat diawal bulan April 2026 ini jumlah pohon tumbang sebanyak empat pohon," ujarnya.
Selain itu, berdasarkan pemantauan melalui kamera pengawas (CCTV), kondisi kebersihan sungai juga terjaga dengan baik. Tidak ditemukan adanya sampah yang berserakan di aliran sungai. Darmanto pun memberikan apresiasi kepada warga yang tinggal di bantaran sungai.
“Ini menunjukkan kesadaran masyarakat sudah baik. Warga bantaran sungai konsisten menjaga kebersihan lingkungan,” katanya, menambahkan.
BPBD juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor dengan berbagai pihak, termasuk BMKG, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP), serta pemerintah wilayah seperti kemantren dan kelurahan.
Tak hanya itu, optimalisasi sistem peringatan dini (early warning system) juga terus dilakukan agar masyarakat dapat melakukan evakuasi mandiri dengan cepat apabila terjadi peningkatan debit air sungai secara tiba-tiba. Melalui berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap masyarakat dapat lebih siap dan sigap dalam menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem
Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% Zona Musim (Z0M) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan, beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.
“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” katanya, Minggu, 5 April 2026.
Di sisi lain, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan BMKG juga memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat” ujarnya.
BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah presisi yang bisa dilakukan oleh seluruh pihak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....