Dampak Konflik Timur Tengah, Pertumbuhan Ekonomi di Bantul Melambat
- 07 Apr 2026 21:46 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Konflik geopolitik yang terjadi saat ini turut berimbas pada perekonomian di tingkat daerah. Salah satunya di Kabupaten Bantul, yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi terendah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyatakan, kondisi ini disebabkan oleh penurunan di sektor industri yang menjadi penggerak utama perekonomian. Halim menegaskan, sektor industri memiliki peran krusial karena menghasilkan nilai tambah tertinggi, terutama yang berorientasi ekspor.
“Maka secara secara kumulatif turunnya sektor industri ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Bantul. Tapi perlu diingat bahwa sektor industri ini nilai tambahannya sangat tinggi, apalagi yang berorientasi ekspor,” ucapnya, Selasa, 7 April 2026.
Bupati menegaskan, kontribusi ekspor Bantul tercatat menjadi penyumbang tertinggi ekspor di DIY. Sehingga, kondisi perang di timur tengah justru sangat berdampak pada sektor ini.
“70 persen ekspor di DIY itu berasal dari Bantul. Sehingga dengan tekanan geopolitik saat ini yang paling terpukul bukan Gunungkidul, bukan Kulon Progo, bukan Sleman, bahkan Kota Yogyakarta, akan tetapi Bantul,” ujarnya.
Meski begitu, Kabupaten Bantul masih bisa mencatatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 4,96 persen. Namun, hasil tersebut berada di bawah kabupaten dan kota lainnya di DIY.
“Dengan kondisi geopolitik seperti ini wajar saja kalau pertumbuhan ekonomi di Bantul itu paling rendah. Akan tetapi PDRB kita cukup tinggi,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....