Fleksibiltas Program Museum untuk Meningkatkan Daya Tarik Pengunjung

  • 26 Mar 2026 15:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Museum sering kali masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, di mana tempat ini kerap dianggap sekadar sebagai gudang penyimpanan barang-barang kuno dan bersejarah yang statis serta membosankan. Namun, Badan Musyawarah Musea (Barahmus) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hadir untuk mematahkan stigma tersebut dengan mendorong museum agar bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup, interaktif, dan mampu menjangkau berbagai kalangan, terutama generasi muda.

Dalam bincang-bincang interaktif di acara "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta, Kamis, 26 Maret 2026, Ketua Barahmus DIY, Dr. Drs. Hajar Pamadhi, M.A. (Hons), mengungkapkan bahwa fleksibilitas program adalah kunci utama daya tarik museum. Menurutnya, indikator keberhasilan sebuah museum di era modern tidak hanya dilihat dari kelengkapan koleksinya, melainkan bagaimana koleksi tersebut diceritakan melalui storyline yang kuat.

"Museum itu tidak hanya sekedar tempat untuk menyimpan barang rongsokan atau barang kuno, tetapi untuk merekonstruksi secara ilmiah apa yang pernah dihasilkan. Oleh karena itu, koleksi itu harus dibaca, diterjemahkan, dan dihubungkan dengan keilmuan yang baru," ujar Ki Hajar.

Sebagai wujud inovasi dan fleksibilitas, Barahmus DIY menggagas program edukatif bertajuk "Kuliah Museum". Melalui program ini, masyarakat diajak mengkaji satu benda koleksi secara mendalam dari berbagai perspektif ilmu, seperti membedah tameng payung Pangeran Diponegoro dari kacamata ilmu mekanika. Selain inovasi program, ekosistem permuseuman di Yogyakarta juga semakin kaya dengan bergabungnya anggota Barahmus ke-48, yakni Museum Surat Kabar Kedaulatan Rakyat (KR).

Kepala Museum Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, Muhammad Wirmon Samawi, S.E, M.E.B., yang turut hadir sebagai narasumber, menceritakan bahwa museum ini baru saja soft launching pada 27 September 2025 lalu. Kehadiran museum surat kabar pertama di Indonesia ini bertujuan untuk merawat ingatan publik tentang peran krusial pers dan para pahlawan pena dalam sejarah perjuangan mempertahankan kedaulatan di Yogyakarta.

"Alhamdulillah antusiasme masyarakat dan pelajar cukup luar biasa. Ke depan, untuk lebih meningkatkan daya tarik, kami akan memperlihatkan proses bagaimana orang dari awal mencari berita, layout, hingga proses pencetakan surat kabar agar pengunjung lebih semangat dan mendapat tambahan ilmu sejarahnya," kata Wirmon.

Dalam sesi tanya jawab dengan pendengar, Ki Hajar menekankan bahwa dukungan memajukan museum harus diwujudkan melalui kunjungan nyata dan partisipasi aktif dalam program-programnya. Beliau menyoroti bahwa kebijakan pembatasan study tour sempat menurunkan angka kunjungan, sehingga pengelola museum harus semakin kreatif menjemput bola, misalnya melalui dialog langsung ke sekolah-sekolah di luar daerah.

Keberlanjutan inovasi permuseuman di DIY ini tidak lepas dari kolaborasi kuat antar pengelola museum dan masyarakat. Dengan rencana digelarnya pameran bersama atau Festival Museum Yogyakarta pada bulan Agustus mendatang, Barahmus DIY berharap ekosistem permuseuman di Kota Pelajar ini dapat terus berkembang menjadi ruang edukasi kultural yang inspiratif, kekinian, dan relevan dengan perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....