Gema Takbir Jogja 2026 Perebutkan Piala Sultan Berlangsung Meriah
- 19 Mar 2026 23:34 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kawasan cagar budaya Komplek Kagungan Ndalem Masjid Gedhe Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat berubah menjadi lautan manusia pada Kamis, 19 Maret malam. Ribuan warga, wisatawan domestik, hingga mancanegara memadati area tersebut untuk menyaksikan langsung perhelatan Gema Takbir Jogja (GTJ) 2026 yang diselenggarakan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Gondomanan.
Acara yang memperebutkan trofi bergengsi Piala Sultan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Hermawan, S.E., M.M.. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali oleh Wakil Wali Kota, didampingi oleh Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman, Ir. H. Asman Latif, serta tokoh-tokoh dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ketua Panitia GTJ 2026, Muhammad Faisal Rahagi, menekankan pentingnya syiar Islam yang berpadu dengan pelestarian alam melalui tema "Takbir Menggetarkan Hati, Meneguhkan Tauhid, Membumikan Lingkungan". Ia menyebut acara ini diikuti oleh 10 kontingen terbaik yang siap menampilkan kreativitas dalam balutan pesan ekologis.
“Malam ini adalah malam kemenangan setelah kita menjalani satu bulan penuh Ramadan. Melalui Gema Takbir Jogja, kita bersama-sama mengumandangkan takbir sebagai rasa syukur sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Hermawan, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi tema yang diangkat oleh para pemuda. Ia berharap kegiatan ini dapat terus konsisten menjadi daya tarik wisata religi unggulan di Kota Yogyakarta.
“Acara hari ini harus diapresiasi. Saya selaku Wakil Wali Kota sangat mengapresiasi acara yang diadakan oleh AMM Gondomanan ini. Apalagi kita berada di akhir masa puasa kita, dan besok insyaallah kita bersama-sama mengikuti salat Ied,” kata Wawan.
Wakil Walikota juga sempat berdiskusi mengenai rencana agar tahun depan acara serupa dapat dilakukan sebagai penyisihan di tiap AMM dan finalnya dilaksanakan saat Iduladha dengan Piala Wali Kota.
Kemeriahan acara juga dirasakan oleh para penonton, salah satunya Ahmad, mahasiswa rantau asal Sumatera Selatan. Ia mengaku terkesan dengan tradisi malam takbiran di Yogyakarta yang meriah dan mampu mengobati kerinduannya akan kampung halaman.
“Saya mahasiswa rantau dari Sumatera Selatan, kebetulan tidak bisa pulang, jadi saya nonton ke sini saja. Saya penasaran melihat tradisi di Jogja, ternyata ramai dan meriah banget. Ada kontingen yang mengangkat tema Sumatera juga, jadi cukup senang mengobati kerinduan di malam takbiran ini,” kata Ahmad.
Penilaian perlombaan dilakukan secara profesional oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi dan praktisi profesional. Kategori penilaian meliputi semangat takbir, kekompakan barisan, aksesoris, busana, hingga lampion dan ting. Adapun rute parade kontingen dimulai dari Plataran Masjid Gedhe Kauman, menyusuri Jalan Pekapalan, Jalan Pangurakan (Trikora), Jalan KH A Dahlan, Jalan Nyai Ahmad Dahlan, Jalan Kauman, dan berakhir kembali di Plataran Masjid Gedhe Kauman. Panitia juga menerapkan rekayasa lalu lintas di ruas jalan utama sekitar Alun-alun Utara guna memastikan ketertiban masyarakat selama acara berlangsung.
Acara ditutup dengan harapan agar kolaborasi antara pemuda, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga tradisi serta lingkungan terus berlanjut. Gema Takbir Jogja 2026 menjadi bukti bahwa kemenangan Idulfitri mampu menghadirkan solusi berkelanjutan, takbir menggetarkan hati, membumikan lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....