Harga Daging Ayam di Yogyakarta Naik, Pedagang Sebut karena MBG
- 12 Mar 2026 11:41 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Harga daging ayam di pasar tradisional Kota Yogyakarta terpantau stabil tinggi pada bulan Ramadan. Harga tersebut bertahan sejak sekitar sebulan lalu atau sebelum bulan Ramadan.
Berdasarkan pantauan di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, pada Rabu, 11 Maret 2026, harga daging ayam berada di kisaran Rp40.000 per kilogram. Bahkan, di beberapa lapak harga mencapai Rp42.000 per kilogram.
Sejumlah pedagang menilai kondisi ini dipicu sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut mereka, program tersebut membuat pasokan ayam lebih banyak diserap oleh distributor besar.
“Buat MBG itu loh. MBG itu malah cari juragan besar, enggak ada yang masuk ke dalam pasar. Ambilnya langsung dari pusatnya. Enggak seperti kita pedagang kecil-kecilan. Sejak MBG ada itu malah merusak harga. Harga-harga terus pada naik semua,” ujar Harti, pedagang daging ayam di Pasar Beringharjo.
Harti memperkirakan harga daging ayam akan kembali naik saat mendekati Lebaran. “Harga daging ayam naik sudah sekitar sebulan lalu, sebelum puasa itu sudah naik. Lebaran nanti bisa naik lagi. Biasanya H-4 atau H-3 itu sudah mulai naik, nanti puncaknya di H-2 dan H-1 itu naik lagi,” katanya.
Senada dengan Harti, pedagang lainnya, Murni, juga mengatakan kenaikan harga ayam terjadi sejak program MBG berjalan. “Pokoknya ayam mahal terus itu semenjak ada MBG. Sejak ada MBG itu ayam harganya mahal,” ujarnya.
Selain itu, Murni juga mengeluhkan kondisi pasar yang semakin sepi pembeli. Menurutnya, maraknya pedagang di pinggir jalan membuat aktivitas jual beli di pasar tradisional menurun.
“Sekarang ini banyak orang jualan di pinggir jalan, jadi pasar sepi. Ditambah MBG jadi tambah serem lagi, tambah sepi. MBG itu yang diambil distributor besar-besar. Katanya dulu mau memajukan UMKM, tapi kenyataannya enggak. Kebanyakan tetap yang distributor besar-besar itu, jadi orang pasar kalah,” kata Murni.
Ia juga menyebut permintaan konsumen menjelang Lebaran tahun ini belum menunjukkan peningkatan signifikan. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, lonjakan pembeli biasanya sudah mulai terlihat sekitar sepekan sebelum Lebaran.
“Penjualan belum ada lonjakan, masih biasa-biasa saja. Kalau tahun kemarin itu seminggu sebelum Lebaran sudah mulai naik, sudah ada peningkatan. Kalau sekarang belum ada tanda-tanda sedikit pun,” ujar Murni.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....