Cegah Populasi, Sterilisasi Kunci Kesehatan dan Kualitas Hidup Hewan Kesayangan

  • 05 Mar 2026 11:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Memelihara hewan kesayangan seperti kucing dan anjing seringkali mendatangkan dilema tersendiri saat populasinya mulai tak terkendali. Namun, drh. Mungky Ema Ramadani, M.Sc., hadir membawa perspektif penting bahwa sterilisasi bukanlah tindakan kejam, melainkan langkah krusial untuk menjaga kualitas hidup hewan agar tetap sehat dan relevan sebagai sahabat manusia di lingkungan perkotaan.

Dalam bincang-bincang hangat di acara "Mbangundesa" RRI Pro4 Yogyakarta, Selasa, 3 Maret 2026, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM tersebut mengungkapkan bahwa sterilisasi merupakan solusi cerdas untuk menekan angka overpopulasi yang kerap memicu penularan penyakit antar-hewan.

Bagi drh. Mungky, prosedur sterilisasi harus dipahami secara tepat sesuai jenis kelaminnya. Ia mencontohkan bagaimana metode kastrasi dilakukan pada hewan jantan melalui pengangkatan testis, sementara pada hewan betina dilakukan prosedur spaying atau bedah perut untuk mengangkat organ reproduksinya. Langkah ini terbukti efektif menghilangkan perilaku agresif serta kebiasaan buruk seperti spraying atau menyemprotkan urin sembarangan di area rumah.

"Satu sisi kita membatasi populasi, tapi di sisi lain kita juga mencegah berbagai penyakit reproduksi. Karena dengan sterilisasi, kualitas hidup hewan justru akan meningkat dan lebih tenang," ujarnya

Fenomena kesadaran ini juga terlihat dari pentingnya memperhatikan usia ideal sebelum tindakan dilakukan. drh. Mungky menekankan bahwa di Indonesia, usia 8 hingga 10 bulan atau saat hewan mulai menunjukkan tanda birahi adalah waktu yang tepat. Meski begitu, bagi hewan yang sudah berusia tua, evaluasi fungsi organ melalui tes darah menjadi rekayasa medis yang wajib dilakukan guna meminimalisir risiko selama proses pembiusan.

Meski prosedur bedah pada betina tergolong bedah besar, drh. Mungky justru menekankan pentingnya sinergi antara dokter dan pemilik (owner). "Pemilik harus patuh, terutama dalam pemberian antibiotik yang wajib dihabiskan untuk mencegah infeksi pasca-operasi. Tanpa kerja sama yang baik, risiko fatalitas bisa menyerang hewan," ujarnya.

Selain itu, pembatasan aktivitas selama 7 hingga 14 hari menjadi kunci agar jahitan tidak rusak akibat gerakan aktif hewan. Dalam sesi dialog tersebut, muncul optimisme mengenai kenyamanan lingkungan pemukiman jika populasi hewan terjaga. Hal ini didasari oleh banyaknya keluhan warga mengenai keberadaan hewan liar yang tidak terurus dan berpotensi menyebarkan penyakit di lingkungan perumahan.

"Harapannya pemilik hewan semakin teredukasi. Penanda seperti ear-tipping atau pemotongan sedikit ujung telinga menjadi bukti bahwa hewan tersebut sudah dilindungi secara medis," katanya.

Menutup dialog, drh. Mungky menekankan bahwa sterilisasi bagi pemula sebenarnya tidak perlu ditakuti asalkan mengikuti prosedur medis yang benar. Justru, keberanian untuk bertanggung jawab atas kesehatan hewan adalah bentuk penghormatan agar ekosistem hidup antara manusia dan hewan tetap harmonis di tengah masyarakat modern.

Dengan semangat kepedulian dan kerja sama medis, program sterilisasi diharapkan mampu menjadikan Yogyakarta sebagai pusat ekosistem kesehatan hewan yang tidak hanya mengontrol populasi, tetapi juga memimpin dalam inovasi kesejahteraan hewan nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....