Membangun Pondasi Cakap Digital Bagi Generasi Alpha

  • 04 Mar 2026 07:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Generasi Alpha atau yang biasa disebut gen Alpha adalah kelompok individu yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025. Generasi ini sudah akrab dengan teknologi digital, AI dan juga gadget. Peran orangtua sangat penting sebagai bentuk pengawasan kepada anak. Seperti melakukan pembatasan screen timing. Sehingga anak tidak perlu berlama – lama di depan gadget. Hal ini diungkapkan Devi Wening Astari, M.I.Kom, seorang Dosen Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta dalam Dialog Literasi Digital di Pro 1 Selasa, 3 Maret 2026.

Permasalahan utama Gen Alpha adalah mereka sudah mengenal gadget sejak lahir. Bahkan sekarang bayi kecil pun sudah senang dengan handphone. Ketergantungan dengan gadged penting untuk disadari para orangtua. Devi juga menambahkan menurut Komdigi dalam Gerakan Nasional Literasi Digital, sebaiknya anak menggunakan gadget ketika usia 16 tahun. Di usia segitu anak sudah mempunyai nalar dan berpikir kritis

Pemerintah Indonesia telah menginisiasi terkait program pembatasan menggunakan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun. Beberapa negara sudah menerapkan pembatasan ini. Seperti Australia, Denmark, Spanyol, Prancis, dan Malaysia. Jika hal ini berhasil diterapkan akan menjadikan generasi muda lebih bijak dan memiliki prestasi baik untuk masa depannya.

Devi menambahkan jika dia pernah melakukan studi dengan mahasiswa dan bertanya terkait alas an orangtua memberikan gadget kepada anak. Kebanyakan jawaban dari mereka adalah agar anak tenang dan tidak mengganggu aktivitas orangtuanya. Penting dilakukan ketika memberikan gadget kepada anak adalah pembatasan konten. Misal menginstal Google Family Link. Sehingga anak tidak bisa membuka situs atau konten dewasa yang tidak sesuai dengan usianya.

Pembatasan screen time juga penting dilakukan agar anak tidak kecanduan dengan gadget. Beberapa studi mengatakan screen time lebih baik di bawah 2 jam per hari. Ketika anak tantrum saat gadget diminta kembali oleh orangtua coba ajak anak untuk beraktivitas fisik. Mengalihkan perhatian mereka ke hal-hal lain. Penelitian menyebutkan jika anak sudah kecanduan gadged, mereka mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungan. Gangguan secara sosio emosional dan gangguan kognitif. Sehingga berpengaruh dengan prestasi akademiknya.

Data dari Badan Pusat Statstik (BPS) mencatat pada tahun 2024 penggunaan medsos untuk kalangan anak-anak itu mencapai 61,65%. Sementara untuk pembelajarannya lebih sedikit, sekitar 27,53%. Ini menjadi hal yang harus diperhatikan orangtua. Bagaimana mereka mendampingi anak agar menggunakan gadget untuk edukasi pembelajaran. Seperti aktivitas menggambar, menulis cerita atau semacamnya. Lebih menekankan kepada kreativitas anak.

Kompetensi dasar literasi digital yang harus dimiliki oleh generasi Alpha ada empat pilar. Digital safety, digital ethic, digital culture, dan digital skill. Untuk skill dari Gen Alpha sudah tidak diragukan lagi. Bahkan mereka lebih canggih dari orangtua dalam penggunaan gadget. Tetapi untuk digital savety nya mereka belum paham. Bagaimana melindungi data pribadi, konten yang mengarah seksualitas, cyber bulliying, pencurian pribadi (phising) dan sebagainya.

Untuk digital culture dalam pengguaan teknologi juga harus diperhatikan. Bagaimana mereka membagikan info kepada yang lain, menyaring informasi, bijak menilai sebuah konten. Terlebih sekarang ada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Lebih sulit menganalisa apakah konten itu fakta atau hoaks. Selanjutnya digital etik juga perlu dibangun. Bagaimana mereka menghargai orang lain di jejaring sosial. Penting diperhatikan untuk menyadari keberadaan orang lain dalam realitas keseharian dan ruang digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....