Perayaan Rabu Abu Tandai Awal Masa Prapaskah

  • 19 Feb 2026 13:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID,Yogyakarta – Perayaan Rabu Abu merupakan hari penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik karena menandai dimulainya masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan selama 40 hari menjelang Hari Raya Paskah. Umat Katolik di seluruh dunia mengikuti misa dan menerima tanda abu di dahi sebagai simbol pertobatan, kerendahan hati, dan pengingat akan kefanaan manusia.

Dalam tradisi Gereja Katolik, abu yang digunakan biasanya berasal dari pembakaran daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. Abu tersebut kemudian dioleskan atau ditaburkan di dahi umat berbentuk tanda salib oleh imam atau pelayan gereja.

Sambil mengoleskan abu, imam akan mengucapkan kalimat, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil." Masa Prapaskah yang diawali Rabu Abu menjadi waktu refleksi mendalam bagi umat Katolik untuk memperbaiki diri melalui doa, puasa, dan pantang. Dengan penuh kerendahan hati, umat meyadari segala perbuatannya yang tidak sesuai kehendak Tuhan dan rela memperbaiki diri unruk hidup sesuai ajaran Kristus.

Umat yang sedang berbaris penuh iman untuk mendapatkan tanda abu di keningnya di Gereja Santo Alfonsus Nandan, Yogyakarta (Foto: RRI /Vemmie Sare Ora)

“Ini adalah waktu berahmat bagi seluruh umat Katolik untuk bertobat dan memperbaiki diri atas segala salah yang dilakukan. Mendekatkan diri kepada Bapa di surga sebagai sumber kasih yang Maha Murah dan Maha Rahim, memohon pengampunanNya dan berusaha untuk memperbaiki diri agar selalu hidup sesuai firmanNya," ujar Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi,Pr yang memimpin Misa Rabu di Gereja Santo Alfonsus Nandan, Yogyakarta pada Rabu,18 Februari 2026

Selama 40 hari, umat diajak meneladani perjalanan Yesus di padang gurun sebelum memulai karya pelayanan-Nya. Tradisi ini telah dijalankan selama berabad-abad sebagai bagian dari pembinaan iman dan spiritualitas umat.

Di Gereja Santo Alfonsus Nandan,Yogyakarta, misa dilaksanakan tiga kali untuk mengakomodasi jumlah umat yang banyak yaitu pada hari Selasa, 17 Februari 2026 pada pukul 17.30 WIB dan hari Rabu,18 Februari 2026 pukul 05.30 WIB dan 17.00 WIB. Mengenakan jubah (kasula) berwarna ungu, Romo Aloysius memimpin misa penuh khidmat. Warna ini bukan sekadar pilihan estetika, tetapi memiliki makna liturgis yang mendalam dalam tradisi Gereja Katolik yaitu pertobatan dan penyesalan, masa Pra paskah, kerendahan hati dan keheningan.

“Umat diajak berdoa dan bertobat bukan hanya pada saat Rabu Abu saja, tetapi dalam seluruh penyelenggaraan hidup hendaklah selalu berpegang pada sabda Tuhan, menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Rabu Abu menandai awal masa Prapaskah, masa refleksi diri untuk kembali mendekat kepada Tuhan selama 40 hari sebelum Paskah," kata Romo Aloysius.

Banyak umat yang tetap mengenakan tanda abu di dahi mereka sepanjang hari sebagai bentuk kesaksian iman di tengah masyarakat. Hal ini juga menjadi momen pengingat untuk hidup lebih sederhana dan mengutamakan nilai-nilai kasih serta pengampunan.

Dengan dimulainya Rabu Abu, umat Katolik memasuki perjalanan rohani menuju Paskah dengan harapan pembaruan hidup yang lebih baik. Melalui doa, puasa, dan karya amal, masa ini diharapkan menjadi kesempatan untuk memperdalam iman serta mempererat hubungan dengan sesama dan Tuhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....