Perayaan Harlah NU Lewat Perpaduan Religius dan Sastra

  • 06 Feb 2026 11:54 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perayaan akbar Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU) yang bertempat di The Ratan menjadi panggung perpaduan antara nilai religius sastra. Acara ini menghadirkan refleksi panjang perjalanan satu abad melalui pendekatan budaya yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan diawali sambutan ketua panitia Gus Fairuz yang menyampaikan apresiasi tulus kepada pihak yang telah mendukung acara. Beliau mengakui adanya catatan evaluasi namun menegaskan bahwa seluruh panitia telah bekerja sangat maksimal dalam menyukseskan gelaran ini.

Sementara itu perwakilan Ikapi, Wawan Arif, memberikan apresiasi dan dukungan terhadap syiar kebudayaan di tanah Yogyakarta. Menurutnya kehadiran tokoh literasi ini memberikan warna tersendiri dalam memperkuat kolaborasi antara organisasi keagamaan dengan para pelaku industri kreatif.

Suasana acara kemudian menjadi sangat dinamis saat duet seniman muda Saviera Ajeng dan Gepeng memandu jalannya prosesi panggung. Kehadiran dua figur kreatif tersebut membawa energi segar dalam menjembatani rangkaian acara formal menuju sesi sastra dan budaya.

Dukungan pemerintah setempat hadir melalui sambutan Bupati Bantul yang secara resmi diwakili oleh dr KH Atthobari, MPH, SpMK selaku Direktur RSUD Panembahan Senopati. Atthobari tidak sekadar menyampaikan pesan birokrasi tetapi juga memberikan sentuhan artistik lewat pembacaan puisi.

Ketua Panitia Gus Fairuz menyatakan bahwa dukungan luar biasa dari semua pihak menjadi energi utama dalam menyelenggarakan acara. "Kami menyadari masih ada kekurangan teknis namun semangat kebersamaan seluruh elemen panitia telah memberikan hasil yang sangat membanggakan,"ujar Gus Fairuz.

Kyai Jadul Maula dari Lesbumi menegaskan bahwa dakwah melalui seni merupakan warisan luhur yang harus terus dijaga keberlangsungannya. "Wayang kulit dan puisi adalah media efektif untuk menanamkan nilai moderasi beragama kepada generasi muda di tengah arus modernisasi," ujarnya.

Semangat dakwah kultural semakin terasa kuat saat Kyai Jadul Maula memberikan sambutan pamungkas sekaligus menutup sesi formal kegiatan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyerahan gunungan secara simbolis kepada dalang cilik Lanang bejo lakune sebagai tanda dimulainya lakon Kalimasada Kajarwa.

Kedalaman makna perayaan ini semakin diperkuat dengan sesi pembacaan puisi yang dibawakan oleh sejumlah tokoh lintas generasi NU. Tokoh tersebut antara lain KH Yasin Nawawi serta Dr KH Habib Abdus Syakur yang membacakan bait bait penuh makna.

Melalui bait puisi tersebut para tokoh merefleksikan khidmah besar Nahdlatul Ulama bagi kemajuan bangsa serta nilai kemanusiaan sejagat. Seluruh hadirin tampak terhanyut dalam rima sastra yang menggambarkan perjuangan para kiai dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pagelaran dengan lakon Naroyono Kakrasana Cakra Temurun dengan dalang Ki Waluyo Asmoro menjadi sajian penutup megah yang meneguhkan komitmen pelestarian warisan luhur Nusantara. Pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa seni tradisional tetap relevan sebagai media syiar Islam yang damai dan sejuk. (Ajeng)

 

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....