Dhe Kecuk, Menjaga Gamelan di Tengah Arus Modernisasi
- 03 Feb 2026 23:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Di tengah pesatnya perkembangan arus musik modern dan teknologi digital, Supoyo yang karib disapa Dhe Kecuk seorang pengrajin gamelan di Dusun Jamblangan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, masih setia menekuni pembuatan alat musik tradisional Jawa. Dhe Kecuk, menjadi satu dari sedikit empu gamelan yang terus berupaya menjaga kelestarian instrumen tradisional tersebut ditengah kelangkaan regenerasi
Bersama istrinya Sarjiatun, Dhe Kecuk menjalankan aktivitas produksi gamelan dari rumahnya yang sekaligus difungsikan sebagai bengkel kerja. Ia mulai mengenal dunia gamelan sejak 1990 sebagai tukang las di Banyuraden, sebelum akhirnya membuka usaha mandiri pada 2012.
“Rumah ini sekaligus tempat kerja saya. Apa adanya saja, yang penting saya bisa terus membuat gamelan dan menjaga agar suara tradisional ini tidak hilang ditelan zaman,” ujar Dhe Kecuk
Ia menjelaskan, tantangan utama dalam pembuatan gamelan terletak pada proses penentuan titi laras atau nada. Menurutnya, melaras gamelan membutuhkan kepekaan pendengaran dan perasaan, karena tidak dapat ditentukan melalui rumus maupun mesin.
“Melaras gamelan itu harus pakai rasa dan telinga. Salah sedikit saja, nadanya bisa mati dan tidak enak didengar. Kepekaan itulah modal utama seorang pengrajin gamelan,” katanya.
Meski dikerjakan dengan peralatan sederhana yang modifikasi sendiri, karya Dhe Kecuk telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Bahkan, salah satu karyanya berupa gong berdiameter tiga meter kini terpasang di sebuah gedung kesenian di Belanda.
Namun demikian, Dhe Kecuk mengakui bahwa mewariskan semangat “nguri-uri” budaya kepada generasi muda,, bukanlah perkara mudah. Menurunnya permintaan pasar dan berubahnya selera musik masyarakat menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup para pengrajin alat musik tradisional.
“Sekarang yang berat itu bukan soal teknis membuat gamelannya, tapi bagaimana supaya gamelan masih tetap dibutuhkan oleh masyarakat dan bisa menghidupi pembuatnya,” ucapnya.
Ia turut menyampaikan bahwa Seni tradisional harus tetap hidup, tapi juga harus memberi penghidupan yang layak bagi pelakunya. Dengan demikian . Dibutuhkan ekosistem yang mampu memastikan para seniman tradisi tetap mendapatkan ruang dan apresiasi yang layak agar kekayaan intelektual bangsa ini tidak sekadar menjadi artefak di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....