Rebung, Pangan Lokal yang Bisa Mengontrol Gula Darah
- 03 Feb 2026 09:44 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Rebung atau tunas bambu muda memiliki potensi besar sebagai pilihan pangan fungsional yang menyehatkan. Bahan pangan ini sejatinya bukan hal baru, karena telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari.
Dalam khazanah kuliner Jawa, rebung kerap dijadikan isian lumpia, bahan sayur lodeh, hingga alternatif pengganti nangka pada gudeg saat bahan utama sulit diperoleh. Sementara itu, masyarakat suku Rejang di Sumatra mengenal rebung dalam bentuk fermentasi sebagai menu khas daerahnya.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa rebung secara turun-temurun telah dikonsumsi sebagai bahan pangan berkelanjutan yang memiliki kandungan gizi sekaligus manfaat kesehatan.
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Agung Endro Nugroho, menjelaskan bahwa rebung mengandung dua kelompok nutrisi utama yang dibutuhkan tubuh, yakni makronutrien dan mikronutrien. Dari sisi makronutrien, rebung dikenal rendah kalori dan lemak, mengandung protein nabati, serta memiliki kandungan serat yang cukup tinggi.
Komposisi ini, menurut Agung, memberikan manfaat kesehatan seperti memperlambat penyerapan gula, membantu menurunkan kadar kolesterol, serta menjaga kestabilan glukosa darah. “Indeks glikemiknya juga relatif rendah, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes maupun individu dengan obesitas,” katanya, Selasa, 3 Februari 2026.
Dari aspek mikronutrien, rebung mengandung sejumlah mineral penting seperti kalium dan magnesium, serta vitamin B dan vitamin C. Kandungan tersebut berperan dalam menunjang fungsi tubuh secara menyeluruh dan memperkuat posisi rebung sebagai pangan fungsional.
Ia juga menambahkan bahwa berbagai hasil penelitian menunjukkan rebung mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang bersifat antioksidan, serta fitosterol yang berkontribusi dalam menurunkan kadar kolesterol. “Senyawa-senyawa ini juga berpotensi bersifat antiinflamasi (anti radang),” ujarnya.
Meski demikian, Agung mengingatkan pentingnya pengolahan rebung sebelum dikonsumsi. Secara ilmiah, rebung diketahui mengandung glikosida sianogenik, yakni senyawa yang dapat menghasilkan hidrogen sianida bila tidak diolah dengan benar.
Namun, senyawa tersebut dapat dihilangkan melalui proses pemanasan. “Dengan perebusan selama sekitar 10–15 menit, kemudian air rebusannya dibuang, senyawa berpotensi toksik tersebut dapat dieliminasi. Jadi, rebung aman dikonsumsi dengan catatan harus diolah terlebih dahulu dan tidak dikonsumsi mentah,” katanya.
Lebih lanjut, Agung menyebutkan adanya penelitian yang menunjukkan senyawa fenolik dan flavonoid pada bambu mampu menghambat pembentukan akrilamida dan furan, yaitu senyawa berbahaya yang dapat muncul akibat proses penggorengan atau pemanggangan pada suhu tinggi. “Fakta ini menunjukkan bahwa bambu, termasuk rebung, justru dapat berkontribusi membuat pangan lebih aman bila diolah dengan tepat,” ucapnya.
Sebagai negara yang memiliki sumber bambu melimpah dan mudah tumbuh, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan bambu, baik pada fase dewasa maupun dalam bentuk rebung, yang masing-masing memiliki manfaat tersendiri.
Apabila dikelola dan diolah secara tepat, rebung berpeluang menjadi alternatif pangan fungsional yang sehat, rendah kalori, dan tinggi serat. Agung bahkan menilai rebung layak dikategorikan sebagai superfood karena kaya nutrisi, memberikan dampak kesehatan yang nyata, serta memiliki risiko relatif rendah.
Dengan pendekatan yang tepat, pemanfaatan rebung tidak hanya berkontribusi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga membuka peluang nilai tambah secara ekonomi. “Kuncinya adalah pengolahan yang benar, edukasi kepada masyarakat, dan pemanfaatan yang sesuai kaidah ilmiah,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....