Permintaan Darah di DIY Naik 10 Persen Setiap Tahun

  • 02 Feb 2026 15:18 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Dalam rangka memperingati ulang tahun Lions Club Yogyakarta Puspita Mataram ke-33 diselenggarakan donor darah di plaza ambarrukmo. Kegiatan yang diselenggakan oleh Lions Club Yogyakarta Puspita Mataram turut berkolaborasi dengan Ambarrukmo Plaza, PMI DIY dan Jogja International Hospital

Acara ini mengusung tema “Berbagi Harapan : Satu Tetes Darah untuk 1.000 Kantong” merupakan gerakan kemanusiaan dalam bentuk berkontribusi secara nyata untuk mendukung ketersediaan stok darah di wilayah DIY. 

Selain donor darah, terdapat pembagian 500 kacamata plus gratis, health talk bersama tenaga medis, penampilan live music serta undian doorprize.

Ketua PMI Yogyakarta, GBPH Prabukusumo menyebutkan, kebutuhan donor darah saat ini mengalami peningkatan sebanyak 10-15 persen per tahun. Kegiatan donor darah yang diselenggarakan di Plaza Ambarrukmo sangat penting untuk menjaga ketersediaan stok darah.

“Jadi penyelenggaraan donor darah seperti ini sangat dibutuhkan, terutama ketika menjelang puasa. Kemudian kalau sekarang sehari kita punya stok 150 sampai 200 per hari,” kata Gusti Prabu.

Dalam kegiatan ini, PMI DIY telah menargetkan sebanyak 1.000 kantong darah dari pendonor dengan pendaftaran sejak pukul 09.00 hingga 18.00 WIB.  Kegiatan donor darah ini tidak hanya digelar di Kota Yogyakarta saja, tetapi melibatkan PMI seluruh DIY, kabupaten dan kota.

Sementara itu, Wakil Ketua PMI DIY, Irjen Polisi (Purn) Haka Astaka M Widya menyebutkan, kebutuhan donor darah di DIY mencapai 7.000-8.000 kantong setiap bulannya. Ia juga menyampaikan untuk kota Yogyakarta darah yang dibutuhkan berkisar 4.000 hingga 5.000 kantong darah setiap bulannya.

“Untuk stok darah itu tidak bisa terlalu banyak dan tidak bisa terlalu sedikit, kalau kebanyakan mungkin kita akan berikan ke kota terdekat dengan jogja, tapi kalau sedikit kita khawatir. Kalau untuk trombosit itu kadaluarsanya Cuma 5 hari, sedangkan darah merah 30 hari,” kata Haka.

Haka menambahkan, pengelolaan stok darah di PMI menjadi tantangan tersendiri karena memiliki kadaluarsa yang singkat. Sehingga PMI DIY melalui kepala PMI Kota atau kabupaten dapat mengatur antara pemasukan, pengeluaran, distribusi dan produksi kantong darah.

Selain persoalan stok darah, PMI DIY sedang mengalami krisis pendonor terutama dari kalangan anak muda. PMI DIY berharap partisipasi masyarakat khususnya generasi muda semakin meningkat untuk memastikan ketersediaan darah bagi pasien yang membutuhkan khusunya di wilayah DIY.(Victorio Firsta).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....