Ini Kata Wamenkes Soal Ahli Gizi dan Kesehatan Lingkungan
- 30 Jan 2026 17:27 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Benjamin Paulus Octavianus, mengungkapkan masih terdapat sejumlah daerah pelosok di Indonesia yang belum memiliki tenaga ahli gizi. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, seiring pemerintah menggencarkan program mengatasi gizi buruk dan penurunan stunting yang difokuskan dalam Makan Bergizi Gratis (MBG).
Benjamin menjelaskan, pemerintah melalui kebijakan nasional telah menyiapkan program MBG bagi ibu hamil, balita, hingga pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA. Program ini bertujuan meningkatkan status gizi masyarakat secara menyeluruh.
Untuk memastikan kualitas pelaksanaan program tersebut, dibutuhkan dukungan berbagai tenaga profesional, seperti ahli gizi, ahli kesehatan lingkungan, tenaga keuangan, hingga pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun demikian, ketersediaan ahli gizi dan ahli kesehatan lingkungan saat ini masih terbatas.
“Ternyata ahli gizi sama ahli kesehatan lingkungan jumlahnya enggak cukup. akhirnya sekarang ahli kesehatan masyarakat boleh diperbantukan untuk mengurangi kekurangan ini, karena mereka juga punya pengetahuan meski tidak setara dengan ahli lingkungan,” ujar Benjamin saat ditemui di BB Labkesmas Yogyakarta, Kamis 29 Januari 2026.
Ia menilai, meningkatnya kebutuhan tenaga kesehatan lingkungan merupakan indikator kemajuan suatu negara. Menurutnya, negara yang maju adalah negara yang semakin peduli terhadap kualitas lingkungan.
Benjamin juga mendorong institusi pendidikan di bawah Kementerian Kesehatan, khususnya Politeknik Kesehatan (Poltekkes), untuk meningkatkan daya tampung mahasiswa pada program studi yang saat ini sangat dibutuhkan negara, terutama ahli gizi dan kesehatan lingkungan.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa perkembangan wilayah administratif, khususnya di Papua, turut berdampak pada meningkatnya kebutuhan fasilitas kesehatan dan tenaga medis. Jika sebelumnya hanya terdapat dua laboratorium rujukan, kini jumlahnya bertambah seiring pemekaran daerah.
“Dulu lab cukup dua, sekarang jadi enam. Rumah sakit rujukan juga bertambah. Ini semua konsekuensi kemajuan. Tidak ada yang salah, ini tantangan baru yang harus kita kejar bersama,” kata Benjamin.
Menurutnya tidak ada yang salah dengan hal ini, faktor perkembangan dan kemajuan zaman dinilainya menuntut untuk semakin bergerak maju.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....