Pusaka Manjing Pawiyatan Meriahkan Peringatan Hari Keris Nasional

  • 25 Nov 2025 16:04 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Keris dan Sarasehan “Pusaka Manjing Pawiyatan” dalam memperingati Hari Keris Nasional. Peresmian pameran ini merupakan kolaborasi antara Dinas Kebudayaan DIY, Grha Keris, dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga, pada Senin (25/11/2025).

Dekan FITK Prof. Dr. Sigit Purnama, menegaskan bahwa penyelenggaraan pameran keris di kampus memiliki nilai historis sekaligus akademik. Ia mengungkapkan bahwa fakultasnya sudah pernah memiliki tradisi keilmuan perkerisan sejak 1964.

“Keris bukan semata pusaka atau koleksi pribadi. Keris adalah pengetahuan. Ada sejarah, teknologi tempa, estetika, dan filosofi hidup yang terkandung di dalamnya. Kampus harus menjadi ruang ilmiah yang menghidupkan kembali tradisi kajian ini, sebagaimana pernah dilakukan para akademisi di masa lalu. Sekarang saatnya mahasiswa memahami keris secara rasional dan ilmiah, bukan hanya melalui cerita mistis,” katanya.

Konsep pusaka manunggal kawiatan yang diangkat menunjukkan bahwa keris adalah bagian dari cipta, rasa, karsa, dan nalar manusia. "Keris harus dipelajari secara ilmiah, di ruang kelas dan kajian akademik. Perguruan tinggi seperti UIN Sunan Kalijaga memiliki peran strategis untuk memastikan keris tidak berhenti menjadi simbol, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang diwariskan lintas generasi,” ucapnya.

Acara dibuka oleh Staf Ahli Gubernur DIY Dr. Didik Wardaya yang mewakili gubernur DIY. Dalam sambutan, disebutkan bahwa keris merupakan mahakarya budaya yang menampilkan keahlian tempa logam para leluhur serta mengandung nilai-nilai filosofis yang mendalam.

“Pengukuhan UNESCO pada 2005 menjadi pengingat bahwa dunia telah mengakui keris sebagai warisan budaya dengan nilai universal. Karena itu, tugas kita adalah memastikan pemahamannya tidak terjebak pada mitos semata. Nilai, sejarah, dan pengetahuan tentang keris harus ditransfer kepada generasi muda dengan pendekatan yang relevan dengan zaman modern,” katanya.

Penanggung jawab kegiatan Rachmad Resmiyanto, S.Si., M.Sc., dosen Pendidikan Fisika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, menjelaskan bahwa terdapat sekitar 40 keris terpilih dipamerkan setelah melalui proses kurasi oleh tim yang dipimpin oleh Drs. Alexandrie Luthfie R., M.S. Ia juga menegaskan bahwa peringatan Hari Keris Nasional di kampus merupakan langkah awal yang penting.

“Kami ingin mahasiswa kembali mengenal keris bukan sebagai sesuatu yang menakutkan atau berkonotasi negatif. Ini warisan bangsa yang diakui dunia. Harapan kami sederhana: mahasiswa minimal tidak membenci keris. Jika generasi muda menolak ikon budayanya sendiri, itu sangat berbahaya bagi masa depan kebudayaan nasional,” ujarnya.

Antusiasme pengunjung sangat tinggi, termasuk, mahasiswa dan pemerhati budaya. Salah satu pengunjung Aji Kusuma mengaku pameran ini membuka wawasannya mengenai keris.

“Ini pertama kalinya saya melihat koleksi keris sebanyak dan seberagam ini. Ada dari Majapahit, Pajajaran, hingga Kamardikan. Saya baru paham bahwa keris bisa menunjukkan perbedaan teknik tempa, bahan, hingga nilai filosofi yang dalam. Sebagai anak muda, saya merasa penting untuk ikut melestarikan budaya seperti ini,” katanya. (Wulan/Devita/par)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....