Suhu Panas yang Ekstrem Tak Menyurutkan Puasa di Kazakhstan
- 07 Mar 2026 11:05 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah hamparan stepa yang seolah tanpa batas, Ramadan hadir membawa warna tersendiri bagi komunitas Muslim di Kazakhstan. Soni Irawan, seorang dosen asal Indonesia yang bertugas di Universitas Nazarbayev, membagikan pengalamannya menjalani bulan suci di salah satu negara dengan cuaca paling ekstrem di dunia ini.
Menjalani ibadah puasa di ibu kota Astana memberikan tantangan fisik yang nyata. Soni menceritakan bagaimana langit cerah sering kali menipu, karena suhu udara bisa anjlok hingga −30°C bahkan −42°C.
"Di tengah ritme kota modern, Ramadan tetap hadir bukan hanya sebagai ibadah, tetapi cara hidup yang membuat hari-hari terasa lebih bermakna," ujarnya. Meski rasa haus terkadang tidak terlalu menyengat saat cuaca dingin, tubuh cenderung lebih cepat lelah karena energi terkuras untuk menjaga suhu tubuh.
Salah satu momen paling berkesan adalah saat berbuka puasa atau iftar. Masjid-masjid besar di Astana dan Almaty menjadi titik kumpul bagi mahasiswa internasional, warga lokal, hingga diaspora dari berbagai negara.
Menu berbuka sering kali menyajikan perpaduan unik:
Menu Pembuka: Kurma, air putih, atau teh hangat.
Hidangan Utama: Plov (nasi berbumbu khas Asia Tengah) dan sajian daging yang kaya rasa.
Kudapan Khas: Baursak, yaitu potongan adonan goreng lembut yang menjadi pendamping setia saat minum teh.
Bagi Soni, yang terpenting bukanlah kemewahan menunya, melainkan semangat berbagi. "Ramadan menjadi jembatan budaya. Kita duduk dalam satu lingkaran iftar—beda bahasa, beda kebiasaan, tapi satu tujuan," ucapnya.
| Baca juga: Mengenal Ragam Tradisi Ramadan di Kuwait |
Memasuki pekan-pekan terakhir, semangat kepedulian semakin menguat. Berbagai komunitas aktif membagikan paket iftar dan melakukan kunjungan sosial ke rumah sakit. Suasana malam pun terasa lebih syahdu dengan pelaksanaan salat Tarawih yang tenang, memberikan ruang bagi para jemaah untuk merefleksikan diri di tengah sunyinya malam Kazakhstan.
Melalui kisah ini, Ramadan di Kazakhstan membuktikan bahwa meski dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer dari tanah air dan dihadang cuaca dingin yang menggigit, kehangatan ukhuwah dan ketaatan ibadah tetap mampu menyatukan hati umat manusia.
(Kontributor Muslimat NU DIY: Sony Irawan, P.hD, Dosen di Nazarbayev University, Kazakhstan)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....