Mengenal Ragam Tradisi Ramadan di Kuwait

  • 20 Feb 2026 11:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Bagi umat Muslim di seluruh dunia, Ramadan selalu membawa kekhasan tersendiri. Tak terkecuali bagi komunitas diaspora Indonesia di Kuwait. Memasuki tahun ketiga menjalankan ibadah puasa di negeri teluk tersebut, RA. Merry Wahyuni, istri Diplomat KBRI di Kuwait, membagikan potret hangat mengenai perpaduan tradisi lokal Kuwait dan kerinduan akan suasana Tanah Air.

Masyarakat Kuwait memiliki cara unik dalam menyambut bulan suci. Jauh sebelum hilal terlihat, tradisi Gerais telah dimulai. Tradisi ini merupakan pesta kekeluargaan di mana para anggota keluarga dan tetangga berkumpul untuk makan bersama.

Jika dahulu para ibu memasak bahan makanan langsung dari dapur mereka, kini seiring perkembangan zaman, hidangan Gerais lebih banyak dipesan dari restoran, namun esensi kebersamaannya tetap terjaga.

Memasuki pertengahan bulan, tepatnya pada tanggal 13-15 Ramadan, giliran anak-anak yang bersukacita melalui tradisi Gergian. Layaknya festival anak-anak, mereka berkeliling dari rumah ke rumah mengenakan pakaian tradisional untuk mengumpulkan manisan, kacang-kacangan, dan cokelat dalam kantong khusus.

Salah satu pilar budaya Kuwait yang semakin hidup selama Ramadan adalah Diwania. Diwania adalah ruang pertemuan dengan susunan kursi melingkar yang menjadi tempat berkumpulnya pejabat, tokoh masyarakat, hingga diplomat.

“Selama Ramadan, Diwania diadakan mulai tanggal 1 hingga 20 Ramadan setelah salat Tarawih,” ujarnya.

Forum ini telah menjadi inti budaya sosial-politik Kuwait selama lebih dari 250 tahun, berfungsi sebagai sarana komunikasi cepat dan akrab untuk membahas berbagai persoalan sehari-hari.

Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) di Kuwait, kerinduan akan suasana Ramadan di Tanah Air terobati melalui kegiatan di Masjid Indonesia yang terletak di wilayah Rigae. Di bawah koordinasi Takmir Masjid Indonesia, berbagai kegiatan keagamaan digelar, mulai dari pengajian menjelang berbuka hingga salat tarawih berjamaah pada 10 malam terakhir Ramadan yang dimulai pukul 01.00 dini hari.

Puncak perayaan terjadi saat Idulfitri, Masjid Indonesia menyelenggarakan salat Id di area parkir yang dihadiri oleh ratusan WNI. Momentum ini juga menjadi ajang "wisata kuliner" pelepas rindu, di mana hidangan khas seperti bakso, somay, hingga masakan Padang dan rendang disajikan untuk para jemaah.

Melalui perpaduan tradisi lokal yang kental dan semangat kebersamaan diaspora, Ramadan di Kuwait membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer dari kampung halaman tidak menyurutkan khidmatnya ibadah dan hangatnya silaturahmi. (Kontributor Muslimat NU DIY: R.A Merry Wahyuni)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....