Tak Surutkan Semangat Ibadah di Bulan Ramadan meskipun di Negeri Orang

  • 08 Mar 2026 08:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di balik gemerlap kemajuan teknologi dan dominasi budaya Buddha di Taiwan, terselip kisah hangat tentang syiar Islam yang dilakukan oleh para pendakwah asal Indonesia.

Salah satunya adalah pengalaman spiritual yang dibagikan oleh seorang Dai Go Global yang ditugaskan oleh Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) di wilayah Hualien, Taiwan, Ricky Habibullah.

Program dakwah internasional ini tidak hanya sekadar menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi jembatan emosional bagi ratusan ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang merindukan suasana religius khas tanah air.

Berbeda dengan di Indonesia, menjalankan ibadah di Taiwan memerlukan perjuangan ekstra bagi para PMI. Berdasarkan data, terdapat hampir 400.000 Pekerja Migran Indonesia yang bekerja di sana. Namun, fleksibilitas waktu untuk beribadah sangat bergantung pada kebijakan majikan atau bos masing-masing.

"Di sini semua dipasrahkan kepada majikan. Jika dilarang, mereka tidak berani melawan karena risiko blacklist dan kehilangan pekerjaan," ujarnya.

Selama bulan Ramadan, Masjid Al-Falah di daerah Hualien menjadi pusat kegiatan bagi para migran muslim. Menariknya, sang pendakwah membawa metode pengajaran klasik pesantren, yaitu Ngaji Bandongan, untuk mengkaji kitab Maqashidus Shalah karya Asy-Syekh Izzuddin bin Abdissalam.

Metode ini ternyata tidak hanya menarik minat warga Indonesia, tetapi juga jamaah dari Pakistan dan Bangladesh. Suasana kajian yang penuh tawa namun tetap akademis berhasil mengobati rasa rindu para alumni santri akan kampung halaman.

"Alhamdulillah, ternyata rindu itu tidak harus kembali ke pesantren. Rindu ini bisa terobati saat ada seseorang yang datang menyampaikan nilai-nilai Islam dengan metode ala pondok pesantren," ungkap salah satu jamaah.

Meski mendapatkan pengalaman luar biasa dan fasilitas yang baik di luar negeri, sang Dai menegaskan bahwa kenyamanan terbaik tetaplah berada di tanah kelahiran.

Ia merefleksikan bahwa berdakwah di negara dengan budaya yang berbeda memberikan pelajaran berharga tentang perbedaan kultur dan cara merespons nilai-nilai Islami.

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa bersyukur atas kemudahan beribadah di Indonesia, sekaligus mengapresiasi perjuangan para pahlawan devisa yang tetap menjaga iman mereka di negeri orang. (Kontributor Muslimat NU DIY: Ricky Habibullah, M.Kom, DAI Internasional LDNU di Taiwan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....